Rabu, Januari 20, 2010

Cerita tentang Mereka, Part II

Ini cerita lanjutan dari "Cerita tentang Mereka, Part I"

Setelah curiga sama Tita dan Ina, sekarang aku mulai curiga lagi sama, sebut saja Mela. Kini Mela sasaran kecurigaanku. Sejak aku melihat Mela dan Alan yang sedang menunggu kami datang, aku merasa antara Mela dan Alan ada sesuatu. Padahal sebenernya gak ada apa2. Lagi2 aku gak bisa dibilang bener. Yaiyalah mereka bisa bareng gitu. Si Mela itu memang paling rajin dateng duluan, terus si Alan selalu memiliki urusan yang harus diurusin sebelum ngurusin urusannya sama kita. Tapi, meski aku udah tau itu tetep aja aku masih curiga Alan punya perasaan tertentu ke si Mela. Apalagi kalau aku lihat mereka duduk bersebelahan. Padahal ya duduknya itu gak disengaja. Dan emang tempat yang kosong di situ.

Selain curiga sama si Mela, aku juga curiga sama, sebut saja Vila. Nah yang ini ni lebih gak masuk akal. Masa cuma karena salah seorang di antara kami, sebut saja Fahri, sedang bercanda aku langsung tambah curiga. Padahal si Fahri kalau ngomong ya asal ngomong entah dia ngomong yang sebenernya apa gak. Aslinya sih aku mulai curiga sama si Vila bukan karena Fahri, tapi karena si Vila itu cantik. Tapi bukan karena itu juga sih. Aku juga nggak tau kenapa aku curiga sama si Vila. Mungkin karena aku terlalu paranoid kali ya? Padahal si Vila itu nggak bisa dicurigai lho. Kalau si Vila jalan bareng si Alan, pasti nggak pernah berdua aja, eh pernah sih tapi cuma sekali. Itupun karena suatu kepentingan yang harus dan menyangkut nama baik kita semua. Selain itu si Vilapun udah punya pacar. Dan udah terbukti si Vila sayang banget sama pacarnya, soalnya ini mereka dulu pernah pisah terus balikan lagi.

Dari semua kecurigaanku ke teman2ku tercinta, gak ada satupun yang bisa dibenarkan. Aku nggak ngerti deh kenapa aku harus curiga. Dan saat aku curiga, aku ngerasa jengkel dan marah banget sama mereka. Padahal kan hal itu nggak boleh karena mereka semua itu TEMANku termasuk si Alan. Kalaupun nanti apa yang aku duga itu benar, juga nggak apa2 kan seharusnya? Emang salah? Nggak kan? Terus kenapa seolah-olah(dan bukan seolah-olah lagi sih,tapi emang bener) kalau hal itu bener terjadi, aku ngerasa nggak terima?aku ngerasa nggak seneng, aku ngerasa marah, aku ngerasa jengkel, dan lebih parahnya lagi aku ngerasa sakit?

Aku kenapa sih?

Selasa, Januari 19, 2010

Ceritaku tentang Mereka, Part I

Mereka itu teman2ku, mungkin lebih dari sekedar teman biasa
Aku sayang banget sama mereka semua, mereka udah berasa seperti keluargaku sendiri, seolah-olah mereka itu saudara kandungku
Tapi meski begitu mereka tetap bukan saudara kandungku, jadi aku jua gak akan bisa mengetahui segalanya tentang mereka termasuk perasaan mereka

Sampai pada suatu saat, aku mulai curiga dengan salah satu dari mereka,sebut saja dia Tita. Sebenernya Tita itu seorang anak perempuan yang sudah memiliki seorang kekasih dan dia sangat setia kepada kekasihnya itu. Padahal aku udah sangat mengetahui hal itu, tapi aku tetap saja curiga. Sebut saja Alan, aku merasa dia sangat perhatian pada Tita melebihi perhatiannya pada yang lain. Sebenernya apa yang aku rasakan itu sama sekali gak bener. Alan bukannya lebih care sama Tita, tapi ya memang begitu seharusnya. Gimana nggak coba? Sekarang aja arah tempat tinggal mereka searah, jadi gak bisa disalahin kalau mereka sering bareng. Kalau Alan gak bareng sama Tita, itu malah salah.

Itu baru masalah Tita. Nah, mulai dari situ aku ngerasa kalau aku semakin gak jelas. Karena mulai saat itu aku gak cuma curiga sama Tita. Sama orang lain juga.

Kali ini aku ngerasa alasan dari kecurigaanku mulai aneh. Sebut saja Ina, sama seperti Tita dan Alan, Ina adalah temanku juga. Aku mengenal Ina lebih dulu daripada mengenal Tita dan Alan (mungkin dari mereka semua yang aku maksud mereka di sini, Ina orang yang paling dulu aku kenal),tapi tetep aja aku mulai dekat sama Ina bareng saat deket sama mereka semua. Aku mulai curiga dengan Ina saat dia berjalan di sebelah Alan. Terus aku liat mereka kok gimana gitu. Pada saat itu juga, aku sadar kalau waktu kelahiran mereka itu dekat. Bisa dikatakan dari kita semua, yang waktu kelahirannya paling dekat sama Alan itu ya si Ina. Tuh kan alasanku gak bener lagi. Kalau misal ada kejadian seperti itu, bukan berarti ada apa2 di antara mereka kan?

Jumat, Januari 08, 2010

ILUSI

Aku kini semakin tersadar akan ilusi itu
Meski Aku akan selalu berharap bahwa itu akan nyata terjadi, tapi itu tetap hanya ilusi
Ilusi yg akan selalu membayangiku
Dan terus mengikutiku
Dan terus mencengkramku
Dan tak kan pernah membiarkan aku lepas darinya
Ilusi itu seakan terus membuatku menjadi manusia bodoh
Yang selalu berkhayal hal yang tak mgkn terjadi itu menjad nyata

Ilusi ini sungguh sesat
Dan akan terus menyesatkanku
Kini, aku telah terperangkap dalam ilusi itu
Semua hanya ilusi, ilusi, dan ilusi