Kamis, Juni 24, 2010

Andai Dia Tahu

Andai dia tahu,
Mungkinkah aku masih bisa berdiri di sini?
Di sudut hatiku yang selalu memojokkan aku
Apakah mungkin dia masih di situ?
Disalah satu ruang kosong dalam hatiku yang masih ragu
Apakah mungkin aku dan dia masih bisa tertawa bersama
Tanpa ada seorang lain yang bisa membaca bahasa kalbuku

Andai dia tahu,
Akankah masih terlukis seulas senyum yang sulit terartikan itu,
berhias di permukaan wajahnya saat aku melihatnya?
Dapatkah aku masih bisa menghiburnya,
dengan segala tingkah bodohku yang tak kukehendaki?
Masihkah bibirnya menertawakan rasa maluku?

Andai dia tahu,
Tapi dia tak tahu,
Atau sesungguhnya dia tahu,
dan hanya bersembunyi dibalik kediamanku?


Semarang, June, 21st 2010 11.27 a.m.

Minggu, Juni 13, 2010

Tentang Anginku

Sekarang aku mau cerita tentang ANGINKU.

Sebenarnya mungkin aku tak mengenal ANGINKU, bahkan dia tahu akupun mungkin tidak. Tapi, yang penting aku tahu ANGINKU, setidaknya dalam pandanganku.
Dia itu ya ANGIN, aku tahu dia, tapi aku rasa dia tak mengetahui aku. Aku bertemu dia juga telat (sebenernya ketemunya ngga telat, tapi aku menyadari keberadaannya yang telat).
Sudahlah, ngga usah dibahas, di sini aku bukan mau bercerita tentang pertemuanku dengan ANGINKU (karena aku fikir itu tak penting), tapi aku mau cerita tentang ANGINKU. Meskipun, aku tak mengenalnya, (seperti yag sudah aku katakana berkali-kali) setidakny aku mengetahui dia.

Sebelum aku nulis panjang lebar tentang ANGINKU, lebih dulu aku nulis tentang nama ANGINKU. Mengapa aku ngasih nama ANGINKU ?.
Seperti yang sudah-sudah, aku ngasih nama selalu ada filosofonya(ya, meski kadang aneh). Aku menyebut dia ANGINKU karena menurutku dia itu seperti ANGIN, filosofi ANGIN sesuai dari novel yang peernah aku baca (tapi aku lupa apa judul novelnya) :
“Angin itu emang terasa, kita tahu kemana dia berhembus, kadang dia lembut, kadang keras, malah kadang terlalu keras. Tapi, yang lucu sekeras apapun yan namanya angin kita tetep nggak bisa menggenggamnya sedikitpun. Padahal dia bisa ngelempar kita jauh-jauh.”

Nah, setelah baca itu sudah mulai ada pencerahan kan?
Aku menyebut dia ANGINKU yak arena itu, dia seperti yang ada dalam filosofi itu.
Terus kalau kata “-ku”, itu memang selalu aku tambahin pada semua julukan orang-orang yang aku sendiri menjulukinya.

Iya, aku menyebut dia ANGINKU karena dia mirip seperti itu. Dia itu kadang lembut, bisa membuai aku dengan kesejukannya. Bisa terlena ak dibuatnya. Bisa melayang-layang aku dibuatnya. Aku bisa tersenyum-senyum sendiri kalau mengingat tentangnya. Aku tak tahu mengapa, tapi ANGINKU memilki sebuah pesona diri yang mampu menjerat mataku. Kewibawaannya, keramahannya, tanggung jawabnya, dan yang lainnya.
ANGINKU itu membuat aku terhidrolisis setiap kali bertemu dengannya. Entah dia sadar atau tidak, ANGINKU mampu membuat aku berubah menjadi tomat.

Namun, di samping keindahan itu semua, ANGINKU juga bisa membuat segala emosi keluar. Aku pernah mengetahui sesuatu hal tentangnya yang membuat air mata di sudut mataku keluar membasahi pipiku. Aku tak tahu persis mengapa itu bisa terjadi, tapi yang jelas itu terjadi karena ANGINKU.

ANGINKU(sekali lagi, ini adalah menurut apa yan aku ketahui) adalah orang yang menurutku terlalu indah untuk diabaikan. Segala pemikirannya sangat maju dan baik. Jarang ada orang yang sebaik dia di dunia ini saat ini (baik bukan berarti memilki yang lembut). Seorang pemimpin yang bertanggungjawab. Jiwa kepemimpinannya tak diragukan lagi, walau meski dia masih harus belajar lagi.
Mungkin itu yang membuat aku bisa teresona kepada ANGINKU.

Yang aku tahu, ANGINKU adalah seorang yang telah membuat aku bisa melupakan dan menghilangkan trauma tentang suatu kisah. ANGINKU yang membuat aku mulai berharap lagi. Tapi, ANGINKU juga yang sat itu sempat membuatku kembali jatuh.

Namun, apapun itu, ANGINKU tetaplah ANGINKU. Aku ngga bisa menangkap dan menggenggamnya. Dia akan selalu berhembus kemanapun dia mau. Dan setiap aku bertemu dengannya, dia bisa membelai aku dengan lembut, atau bahkan melempat aku jauh-jauh.

Apapun yang terjadi, aku tidak akan membenci ANGINKU. Dia akan tetap menjadi ANGINKU yang akan membuat hidupku semakin berwarna.

:)

Bagaimana?

Bagaimana jika yang mereka katakan benar?
Bagaimana jika aku ingin yang beliau katakan kepadanya itu benar terjadi?
Bagaimana jika saat itu alasanku adalah kamu?
Bagaimana jika nyanyianku adalah untuk kamu?
Bagaimana jika aku mulai berharap kepada kamu?
Bagaimana jika yang bisa membuatku berpaling dari angin adalah kamu?
Bagaimana jika yang aku tulis adalah untuk kamu?
Bagaimana jika aku benar-benar menangis hanya karena takut kamu menghilang?
Bagaimana jika itu semua tentang kamu?
Bagaimana?


Semarang, June, 11th 2010,, 12.29 a.m.

Jumat, Juni 04, 2010

Karena Hanya pada Bintang

Hai Bintang,
aku mohon datanglah malam ini untuk temani aku bersama malamku,
karena aku sedang ingin berbagi,

berbagi tentang senyuman yang ingin kuinfeksikan pada semua makhluk,
berbagi tentang tawa yang ingin aku tebarkan di atas bumi,
berbagi tentang tangis yang tak bisa lagi terbendung,
berbagi tentang amarah yang sudah menggemuruh,
berbagi tertang keluh yang selalu tertahan,
berbagi tentang suatu pesan yang tak bisa tersampaikan kepadanya,
berbagi tentang kejujuran yang tak pernah terungkap,

karena hanya padamu bintang,
aku bisa meluapkan segalanya
kala aku merasa penat dengan keabstrakan yang berliku-liku,
kala aku tak mampu menahan cerita tentang dia yang belum dapat aku gapai,
kala aku merindukan harmoni air sungai yang menenangkan,
dan kala aku ingin berimaji tentang angin yang menggiurkan untuk ditangkap.

Terimakasih bintang, kau telah hadir dengan pesona sinarmu yang dapat membuka semua yang aku rasa,
yang ternyata selalu bisa menyimpan semua rahasia tentang aku, dia, dan mereka dalam cahaya abadimu yang tak bisa terlupa.



Semaran, June, 3rd 2010,, 11.39 p.m.