Minggu, Agustus 29, 2010

Kejadian di Awal Sekolah

Sebenernya, ini udah lama. tapi, nggak apa-apa deh, aku mau cerita.

Kejadian ini terjadi pada : 13 Agustus, 2010. Hari itu hari pertama aku masuk sekolah di bilan puasa tahun ini.Seperti biasa, aku berangkat dari rumah dianter Ayahku sampai shelter BRRT -waktu itu sampai shelter jam 06.30-. Terus aku naek BRT ke sekolahanku tercinta. Waktu lagi nunggu BRT, si Eyang buntal dateng, aku mikir aja , -hore ada temennya- . Terus si BRT dateng, tapi si Beti sama Ratna belum dateng. Akhirnya Eyang memutuskan untuk nungguin mereka dulu. Jadi, kita naek BRT selanjutnya. Setelah sekian menitu menunggu, mereka berdua dateng. Terus, lama bangetBRT-nya nggak dateng-dateng, tapi akhirnya dateng juga.

Di perjalanan, sumpah jalannya macet, hiii aku nggak suka jalan sepenuh gitu. Jadi, BRT-nya nggak bisa ngebut deh. Waktu liat jam, kayanya kita bakalan telat deh, rasanya sedikit agak nggak tengang gitu, tapi cuma sedikit, soalnya juga banyak anak Smaga yang ada di BRT itu.

Dan sesampainya di shelter Pemuda, kami pun turun dari BRT. eh eh ternyata bener kita udah telat. Semua anak pada lari, tapi aku nggak.

Dan ada bonus buat aku, waktu turun dari shelter, terus mau naik ke trotoar, nggak tau gimana, Brukk... aku sudah tengkurap di jalan dengan lutut menggesek ujung trotoar. hwaaa.....aku jatuh lagi. Aku langsung berdiri, lari, sambil lepas jaket buat nyembunyiin identitas hehehe. Sumpah malu tau....

Sampai sekolah, kita dihukum, cuma diceramahin sih, soalnya kan lagi puasa hehe. Jujur ini pengalaman pertamaku telat, selama sekolah di sini. hehe. Waktu diceramahin aku ketemu Riska, horeee ada temen sekelasnya.

Itu ceramahnya agak lama, padahal lututku udah berdarah-darah gitu,
Setelah diceramahin, kita diabsen. Damn..di absennya dari kelas X, mana urut lagi dari X-1 ke slanjutnya. Dan aku , kelas XII Ipa 11, yang artinya kelas terakhir, udah gitu nomornya juga terakhir. Dalam hati, haduh lama dong, keburu lututku tambah parah.

Tapi, saat absen kelas X dan XI selesai, ad keajaiban, yang kelas XII di absennya dari kelas terakhir. Horeeee

setelah basen, aku sama Riska ke UKS, ngobatin lututku.



hehehehe, itu tadi hadiah hari pertamaku masuk sekolah di bulan puasa : udah telat, jatuh lagi, mana yang luka kedua lutut lagi hahaha

Ramadhanku Tahun Ini, Merindunya

Ramadhan tahun ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Ramadhanku tahun ini, aku sangat merindukannya. Merindukan beliau yang aku sayang.
Biasanya, di setiap ramadhan, aku selalu bersama mereka yang aku sayang, kami berlima. Setiap menjelang buka puasa, aku nyiapin sesuatu untuk beliau, terus kalau udah mau buka, aku manggil beliau buat siap-siap bareng Ayah, Mami, dan Kakakku. Terus waktu buka, cerita bareng-bareng berlima.

Sekarang, udah nggak ada lagi kata berlima. Beliau udah nggak ada di sini. Jujur, aku merindukan beliau. Merindukan kesibukan menyiapkan apa-apa untuk beliau. Aku rindu dikomentarin beliau.

Tapi, sekarang aku harus ikhlas, beliau pasti sudah bahagia di sana. Meski, tanpa kami.


---Eyang, aku sayang kamu. Maaf waktu itu aku satu-satunya yang nggak ada di sampingmu saat bertemu dengan malaikat itu. Maaf aku malah nyanyi-nyanyi bareng temen-temenku di sana. Tapi, aku yakin Eyang nggak akan marah, tapi bangga. karena hari itu ada hasilnya kan eyang? Paling nggak aku bisa bawa nama sekolah bareng temen-temen, dan Eyang pasti seneng kalau liat pialanya. Aku sayang Eyang---

Jalurku dan Jalurmu

Sekarang aku telah sampai pada titik kelelahanku. Aku sudah merasa cukup berlari sampai di sini saja. Bukannya aku menyerah, bukan juga karena aku kalah. Karena aku tahu jalurku saat ini tak akan mempertemukan aku dengan kamu.

Sekarang, aku akan berhenti. Kemudian berbalik arah. Dan tak akan berlari mengejar jalurmu lagi. Karena memang jalur kita sangat berlawanan. Namun, bukan berlawan yang akan menjadi tegak lurus. Bukan juga berlawan yang berbeda arah yang nantinya akan bertemu pada satu titik. Berlawanan di sini dalam arti kamu ada di jalur lain di seberang sana dan mungkin akan mencapai garis finish-mu. Yang berarti tak akan bisa aku temui lewat jalurku. Jadi, tak ada gunanya jika aku masih berlari melalui jalur ini.

Mungkin saja, aku bisa berpindah jalur ke jalurmu. Namun, bukankah itu akan berarti aku hanya akan ada di belakangmu, karena kamu sudah jauh ada di depan sana? Dan jika aku memaksakan diri untuk berlari melewati jalurmu, itu hanya akan menempatkan aku berada jauh di belakangmu. Yang hanya ada 2 kemungkinan :
1. Aku tidak bisa bertemu dan tidak bisa melihat kamu karena kamu berada terlalu jauh di depan.
2. Aku tidak bisa bertemu denganmu, tapi hanya bisa melihatmu tampak belakang, karena pasti kamu akan terus berlari ke depan mencapai garis finish-mu. Yang itu berarti tak ada hasil yang aku capai dari berlari-ku ini.

Jadi, aku rasa berhenti berlari, kemudian berbalik arah, adalah keputusan yang tepat -setidaknya untuk saat ini- karena dengan begitu tidak akan ada lagi keinginan untuk berlari mencapaimu, karena jalur dan arah kita berbeda. Serta aku tidak akan bisa melihat kamu karena kamu berlari maju dalam jalurmu yang ada di arah sebalikku.

Dan sekali lagi, aku akan balik kanan, lalu berlari ke arah lain dan tak akan mengingat jejak ke arahmu. Kemudian akan aku yakini aku akan menemukan jejak lain di jalurku sendiri yang memang jejak itu akan aku telusuri. Yang nantinya pasti akan menjadi jalur yang sejajar dan berhimpitan dengan jalurku.

:)



Semarang, August, 28th 2010 ; 12.24 WIB

Sabtu, Agustus 28, 2010

Terimakasih pada Ketidakadilan

Pembuka :
Pertama, aku nggak tau apa fungsinya aku menulis ini. Kedua, kalau ngak tau apa-apa nggak usah sok tau dan membuat kesimpulan sendiri lalu mempublikasikannya.

---

Terimakasih pada ketidakadilan, sudah membuat aku merasakan tentang ketidakadilan. Dan membuat aku mengerti tentang mendendam, mengutuk, menyumpah, dan membusuki.

Baru sekian menit yang lalu, aku mulai mendendam kepada ketidakadilan, pastinya. Mengutuk pada dia yang berada di sana. Menyumpah pada diri sendiri. Serta merasa membusuki.
Ini semua pasti karena sang ketidakadilan.
Bagaimana mungkin tidak disebut dengan ketidakadilan?
Kamu mengetahui tentang rasa yang sebenarnya tapi kamu tak pernah mau meberitahu aku. Kamu mengetahui keberadaanku, tapi kamu tak mau membiarkan aku mengetahui tentang keberadaanmu. Kamu mengetahui fakta dibalik perkataan mereka, tapi kamu menyembunyikan dengan rapinya dari aku. Kamu selalu bisa melihat ke dalam mata itu, tapi kamu tak pernah memberi aku kesempatan untuk balik melihatnya. Kamu dengan bebas sering bisa mencoba menemukan jawaban dari sinar matanya, tapi setiap kali aku mencoba untuk menemukan jawaban dari mata itu, kamu segera menyembunyikannya dan tak pernah memberi aku kesempatan untuk melihatnya sedikitpun.

Dan aku rasa itulah ketidakadilan. Yang kini sepertinya sedang bermain-main dengan aku.

Terimakasih pada ketidakadilan, telah memberitahu aku tentang mendendam, mengutuk, menyumpah, dan membusuki.


Semarang, August, 28th 2010 : 10.23 p.m.

Senin, Agustus 23, 2010

Harapanku dan Sajak Mandalawangi-Pangrango

Mandalawangi-Pangrango

Sendja ini ketika matahari turun
ke dalam djurang-djurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu
dan dalam dinginmu

Walaupun setiap orang berbitjacara
tentang manfaat dan guna
aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi
sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta

Malam itu ketika dingin dan kebisuan
menjelimuti Mandalawangi
Kau datang kembali
dan bitjara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi jang tanda tanja
tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah, dan hadapilah”

dan antara ransel-ransel kosong
dan api unggun jang membara
aku terima itu semua
melampaui batas-batas hutanmu,
melampaui batas-batas djurangmu
aku tjinta padamu Pangrango
Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta 19-7-1966
Soe Hok-gie

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mandalawangi-Pangrango, sajak dari seorang yang sangat diakgumi (setidaknya bagiku), merupakan sajak yang paling aku sukai. Aku sudah sering mendengar sajak ini. Dan sejak pertama kali mendengarya, aku sudah jatuh cinta pada sajak ini. Namun, aku tak pernah bisa mendapatkan sajak ini seutuhnya. Karena kemampuan mengingatku yang memang sangat terbatas. Dan aku hanya bisa menikmati sajak ini dengan mendengarnya saja.

Seperti dalam setiap sajak ataupu lagu, ataupun novel, ataupun cerita yang aku dengar atau aku baca, selalu ada kalimat atau bagian yang sangat aku suka.

-Walaupun setiap orang berbitjara
tentang manfaat dan guna
Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan-

Itu bagian yang paling aku suka dan aku ingat sejak pertama aku mendengar sajak ini.

Mungkin ini salah satu penyebab aku menyukai sajak ini.
Dan setelah sekian tahun aku hanya menyukainya dalam diamku, kini akhirnya aku mendapatkan teks lengkap dari sajak itu. Ini semua berasal dari buku yang berjudul Soe Hok-gie….Sekali Lagi, yang selesai aku baca saat aku mulai niat untuk membacanya.

Mandalawangi-Pangrango, aku sudah mulai menyukainya sejak hanya mendengar sajaknya saja. Dan kini, setelah aku membaca bukku itu, aku menjadi semakin jatuh cinta dan penasaran pada tempat itu.

Aku hanya berharap, suatu hari nanti ketika Tuhanku sudah mengizinkan aku, aku ingin mengunjungi tempat itu. Aku meletakkan kakiku di atas tanahnya, dan membiarkan mataku menjelajahi dengan liarnya ke segala arah di tempat itu dan menuju langit tempat itu.

Suatu hari nanti, aku yakin aku akan bisa mengunjunginya.

Selasa, Agustus 17, 2010

Indonesia 65


Dirgahayu Indonesia-ku :)

Hari ini, 17 Agustus 2010, aku melakukan upacara memperingatati hari kemerdekaan Indonesia-ku tercinta untuk terakhir kalinya di bumi Ganesha,, aminnn. Bukannya aku ngga mau lagi upacara 17-an, tapi aku pengennya upacaranya bukan di tempat itu lagi karena aku berharap ini tahun terakhirku belajar di tempat itu.

Yang istimewa buat hari ini :
ini pertama kalinya aku upacara di bulan puasa, dan aku benar-benar semangat upacaranya. Iyalah ini kan upacara 17-an. Pastinya aku selalu menyambutnya dengan sangat senang dan melakukannya dengan penuh niat di hatiku ;).
Kedua, aku berangkat upacara ke sekolahanku sendirian, naik motor horeeee. Hahaha seneng aku.

Well, mungkin emang nggak murni aku seneng banget sama hati ini, sebenernya tadi di sekolah I wasn't in a good mood. Tapi, ternyata salah satu yang bisa membuat mood-ku jadi semakin jelek nggak keliatan. Lebih tepatnya aku tak bertemu dengannya, karena dia nggak upacara di sini haha.

Kembali ke topik, 17 Agustus 65 tahun yang lalu, para orang dulu berhasil memproklamasikan kemerdekaan negara-ku tercinta ini. Dan seperti saat ini, 65 tahun yang lalu, mereka melakukan upacara pengibaran sang MerahPutih di bulan puasa. Jadi, tadi saat upacara aku bisa sedikit membayangkan perjuangan 65 tahun lalu, apalagi tadi heli lewat, jadi berasa kaya ada tentara Jepang lewat waktu lagi upacara (aku tahu aku berlebihan).
Indonesia-ku sudah 65 tahun merdeka, tapi ternyata masih saja ada orang yang mencaci negaranya sendiri ini dan hanya bisa mencaci saja. Kalau dia memang warga negara Indonesia, harusnya dia mengubah hal itu dengan memulai dari dirinya sendiri. Paling tidak jangan hanya mencela, tapi beri contoh yang seharusnya pada warga lain.

Dan harusnya kita semua sadar, Indonesia kita ini, tak seburuk yang dikatakan beberapa oknum tersebut. Sebenarnya Indonesia kita tercinta ini punya banyak hal yang bisa dibanggakan. Tergantung cara kita memperlakukannya bagaimana.



Setidaknya hingga saat ini banyak yang bisa aku banggakan dari Indonesia-ku ini.

Dan sampai detik ini,
dan juga kemarin, hari ini, besok, dan untuk selamnya I am very proud to be an Indonesian :)


Semarang, August,17th 2010

Rabu, Agustus 11, 2010

Aku Ingin Berakhir di Sini

Maaf, jika aku begini. Tapi, beginilah aku.

Dan aku, sudah berada di batas waktu yang telah kutentukan, meski sebenarnya ini melebihi batas itu.
Memang ini salahku sendiri yang tak segera berhenti di batas itu. Kini, jika aku begini, sepenuhnya mungkin hanya kesalahanku sendiri. Yang terus ingin berharap dan percaya pada keajaiban.

Sekarang, 19 hari lebih dari batas itu, aku baru menyadari, dan aku baru mengambil sebuah keputusan. Aku tahu, ini memang sangat terlambat, tapi kurasa ini lebih baik. Aku ingin berhenti.

Sepertinya, sudah cukup apa yang aku rasa dan aku lakukan. Aku tak pantas terus begini. Aku tak layak untuk terus menunggu di dalam segala ketidakpastian yang hanya akan semakin menjemukan.

Maaf, aku ingin berhenti. Sekarang, tak perlu lagi menunggu segala tanya terjawab. Karena aku sudah memikirkan jawaban itu sendiri. Dan, jawaban itu pasti menuntut aku untuk berhenti di sini. Iya, di sini. Ketika aku tak mampu lagi menunggu (bukan berarti aku tak bisa menunggu dan tak bisa bertahan).

Sekarang, aku berikan terimakasih. Setidaknya karena aku masih mulai mempercayai keajaiban. Dan setidaknya kamu bisa membuat aku berpaling dari angin yang memang ingin aku jauhi.

Meski sekarang aku ingin berhenti, aku tak akan pernah berhenti berdoa untuk kamu.



-Rida-
Semarang, August,11th 2010 ; 09.13 a.m.

Senin, Agustus 09, 2010

How Can Stars Shine?

Star is a very large ball of burning gas in space which is usually seen from earth as a point of light in the sky at night. But, not all of the stars can only be observed at night, such as sun which is known as the nearest star to the earth.

If we see stars, we will think that stars have their own light. Now, how can they shine? Generally, the stars can shine because of thermonuclear fusion.

The thermonuclear fusion starts because of the intense pressure and temperature at the core of the star. In this place, atoms of hydrogen are fused into atoms of helium. And this reaction can releases energy in the form of gamma rays. And then, the gamma rays are trapped inside the star and push outward against the gravitational contraction of the star. Then, the gamma rays try to get out from the star. They are absorbed by one atom, and then emitted again. This can happen many times in a second and a single photon can take 100,000 years to reach the surface.

Then, when the photon reaches the surface, they have lost some of their energy so they become visible light photons. These photons leap off the surface and head out in a straight line into space. They can travel all the time if they run into nothing.

So we can see beautiful shining stars in the sky.

Minggu, Agustus 08, 2010

Saya Merindukan Kalian

Saya merindukan kalian
Tawa kalian,
Canda kalian,
Tangis kalian,
Semua tentang kalian
Apakah kalian mengerti itu?


Saya merasa ada, bersama kalian,
Saya merasa kita seperti langit malam yang cerah,
Yang memiliki gelap,
Namun ditaburi jutaan bintang,
dan diterangi sebuah keindahan bulan,
Saya merindukan itu


Apakah salah jika saya merindukan kalian?
Saya ingin mengukir cerita tentang kalian (lagi) bersama,
Bukan cerita tentang kalian yang terpisah


Mungkinkah saya egois,
karena merindukan kalian?
Karena saya tak menyenangi keadaan kini?
Karena saya menuntut keprofesionalitasan?
Karena diam-diam saya menagih
ikrar tak terucap dalam batin kalian?


Namun saya tak akan mendusta
pada diri saya ataupun kalian,
Saya benar-benar ingin kaian,
Tanpa ada rasa membusuki dalam batin masing-masing.

Kamis, Agustus 05, 2010

Kepada Doa dan Pengharapan

Kepada doa dan pengharapan
Aku sandarkan sekian kata demi kata
Yang tak bias terangkai dengan indah
Namun kuyakin dapat kau mengerti

Kepada doa dan pengharapan
Kugantungkan sekian imaji
Dalam berbagai bahasa malam
Untuk kulihat dalam hidup nyataku

Kepada doa dan pengharapan
Kutitipkan segalaku
Dan kupercayakan tentang dia
Di atas tanah merahmu
Yang kan selalu menjaga dalam diam