Sabtu, Januari 29, 2011

Untuk Tuhan

Tuhan, aku percaya pada-Mu,
sungguh, Tuhan.
Aku percaya Engkau menyayangi semua makhluk-Mu,
begitu juga Engkau menyayangi beliau,
aku tahu dan percaya itu, Tuhan.

Aku juga percaya kalau Engkau tahu,
aku juga menyayangi beliau,
aku teramat menyayangi beliau,Engkau tahu itu lebih dari siapa pun.

Dan Tuhan, aku ingin kesembuhan untuk beliau.


Semarang, 29 Januari 2011

Minggu, Januari 23, 2011

Ketidaktahuan

Sudah ya,
Aku tidak ingin tahu,
Aku tidak ingin kamu tahu,
Aku tidak ingin dia atau mereka tahu,
Biar saja begini,
dengan ketidaktahuan,
Karena aku bahagia dan menikmatinya.


Semarang, November 2010
-rida-

Jumat, Januari 14, 2011

Tentang

Tentang tulisan,
Tentang tawa,
Tentang air mata,
Tentang rahasia,
Tentang canda,
Tentang pejuangan,

Bukan tentang aku,
Bukan tentang egoisme,
Bukan tentang aku dan kamu,
Bukan tentang aku dan dia,
Bukan tentang dia,

Tapi tentang kita.


Semarang, 14 Januari 2011 ; 10.45 a.m.

Kamis, Januari 13, 2011

Social Care, #4

Kamis, 30 Desember 2010

Kamis ini adalah hari terakhir kegiatan social care. Dari pihak panti asuhan semdiri sudah merencanakan suatu acara perpisahan untuk kami semua. Namun, acara tersebut baru akan dilaksanakan selepas dzuhur.

Pagi harinya, saya dan teman-teman saya membantu menyiapkan makanan untuk acara perpisahan. Awalnya, ibu panti menghendaki agar hari ini kami ikut membuat bakso, tapi karena ternyata baksonya sudah diabuat hari sebelumnya, maka kami hanya membantu memasak kuah dan yang lainnya.

Pertama, saya membantu menggoreng tahu. Untuk menggoreng tidak menggunakan kompor gas karena kompor tersebut sudah digunakan untuk memasak kuah bakso. Jadi, yang digunakan adalah tungku dengan bahan bakarnya kayu bakar. Sebelum saya yang menggoreng, ada Yume yang menggoreng kemudian saya menggantikan mungkin karena di situ memang sangat panas karena api. Setelah menggoreng, saya ikut membantu teman saya emoting sawi dan mencucinya. Setelah, itu acara memasak selesai.

Masih ada cukup waktu sebelum dzuhur. Sambil menunggu dzuhur, kami melanjutkan kegiatan kemarin, yaitu vision paper. Sekarang giliran mereka (anak-anak panti) untuk menceritakan vision paper yang telah mereka buat. Namun, mereka tidak ada yang mengaku kalau sudah selesai karena mereka malu untuk bercerita. Akhirnya, kami menunjuk seorang anak bernama Sani untuk bercerita. Dan akhirnya di amau menceritakan vision paper hasil karyanya. Setelah Sani bercerita, kami meminta anak-anak lain, tapi tetap saja tidak ada yang mau meski juga ditunjuk. Meski begitu, akhirnya mereka semua mau menunjukkan hasil karya mereka yang ternyata sudah selesai mereka buat dan bagus-bagus. Sayangnya, waktu dzuhur tiba yang berarti acara itu harus diselesaikan.

ini hasil vision paper
Kemudian kami shalat dzuhur berjamaah dan dilanjutkan dengan acara perisahan. Dan dalam acara itu juga dihidangkan bakso hasil buatan kami. Ternyata hasilnya tidak buruk. Setelah acara perpisahan kami lanjutkan dengan pembagian hadiah dilanjutkan dengan pesan kesan dari kami untuk mereka dan dari mereka untuk kami.

Kegiatan social care akhirnya resmi berakhir. Banyak hal yang sudah kami dapat dari sini. Dan banyak pelajaran juga yang kami dapat. Saya sendiri berharap semoga apa saja yang saya dan teman-teman saya lakukan selama empat hari ini member manfaat bagi kami, mereka, dan sekitar.


Semarang, 30 Desember 2010

-mba Zura-

Social Care, #3

Rabu, 29 Desember 2010

Rabu ini adalah hari ketiga kegiatan social care. Rencananya, kegiatan hari ini adalah sebuah kegiatan yang kami beri nama vision paper. Namun, karena pekerjaan kemarin, memindahkan pasir, belum selesai, maka kami tidak langsung melaksanan kegiatan yang telah kami rencakan.

Pada pagi hari kami terlebih dahulu melanjutkan pekerjaan kemarin (memindahkan pasir). Jika kemarin saya hanya ikut dalam estafet ember berisi pasir yang akan dipindahkan, hari ini tidak. Pertama, saya memang hanya ikut estafet, tapi setelah beberapa saaat saya menggantikan beberapa teman saya untuk mencangkuli pasir. Kemudian memasukkannya ke dalam ember yang akan diestafetkan. Saya mencangkuli sampai waktu dzuhur tiba sebagai tanda bahwa pekerjaan tersebut dihentikan meskipun masih ada sedikit pasir yang belum sempat kami pindahkan.

Setelah memindahkan pasir, seperti biasa saya, teman-teman saya, dan anak-anak panti melakukan shalat dzuhur dan makan siang. Hari ini bukan giliran saya yang mencuci piring. Jadi, saya tidak mencuci piring.

Ketika semua acara mencuci piring selesai dan kami semua sudah berkumpul, acara vision paper kami mulai. Vision paper inii adalah sebuah kegiatan di mana setiap anak harus membuat sebuah karya di atas kertas gambar yang telah kami sediakan kemudian mereka harus menceritakan tentang maksud yang mereka buat. Pertama, teman saya Riska menjelaskan bagaimana cara membuatnya. Setelah itu, giliran saya yang memberi contoh. Lalu, merekapun masing-masing membuat.

Berhubung jam kerja kami sudah selesai, kami harus segera berpamitan. Dan karena anak-anak panti belum ada yang menyelesaikan vision paper masing-masing, maka mereka bisa melanjutkannya setelah kami pulang atau esok hari. Dan esok harinya juga mereka akan bercerita tentang vision paper masing-masing.

Semarang, 29 Desember 2010

-mba Zura-

Social Care, #2

Selasa, 28 Desember 2010

Hari kedua kegiatan social care ini, hanya terdiri dari dua macam kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut berasal dari jadwal dari panti itu sendiri dan kegiatan yang satunya lagi merupakan kegiatan dari kami.

Pertama, saya dan teman-teman saya ikut membantu dalam memindahkan pasir. Pasir tersebut harus kami pindahkan dari daerah panti bawah ke daerah panti atas. Pasir tersebut nantinya akan digunakan untuk membuat bangunan di panti tersebut.

Jarak antara tempat asal pasir berada dengan di mana pasir harus dipindah tidak terlalu jauh. Namun, jalan yang harus dilalui adalah jalan yang menanjak. Kami berpikir, jika tiap anak harus membawa satu ember pasir dari tempat asal pasir berada ke tempat di mana pasir harus diletakkan pasti akan sangat lama dan kurang efisien. Selain itu juga akan membuat semua anak menjadi lebih mudah lelah. Akhirnya, kami putuskan untuk estafet ember berisi pasir dan beberapa anak gentian untuk memacul pasir da dimasukkan ke dalam ember yang akan kami salurkan. Kegiatan ini berlangsung hingga waktu dzuhur.




Setelah semua anak lelah dan waktu dzuhur tiba, kegiatan memindahkan pasir kami hentikan. Lalu kami lanjutkan dengan shalat dzuhur dan makan siang. Ketika makan siang selesai, hari ini giliran saya dan Yuan yang membantu mencuci piring bekas makan siang kami.

Kamudian setelah semua anak selesai melakukan kegiatan masing-masing, acara kami lanjutkan. Berhubung kami semua telah melakukan kegiatan yang ternyata cukup membuat saya, teman-teman saya, dan pastinya anak-anak panti lelah, kami bermaksud memberikan kegiatan yang tidak membutuhkan tenaga dan dapat dilakukan sambil beristirahat. Dan kamipun memberi sebuah hiburan yaitu menonton film bersama. Setelah menonton film, kami mencoba mencari amanat yang ada dalam film tersebut bersama-sama. Kemudian, waktu kami sudah habis dan kami pun pamit.


Semarang, 28 Desember 2010

-mba Zura-

Social Care, #1

Senin, 27 Desember 2010

Hari ini adalah hari pertama kegiatan social care. Jadwalnya, kami harus datang jam 10.00 WIB. Namun, saya dan beberapa teman saya sudah datang sebelum jam 10.0 WIB.

Sesampainya di panti Asuhan Sultan Fatah dan setelah teman-teman saya lengkap, kami disambut oleh bapak ibu pemilik panti. Kemudian kami segera menemui anak-anak panti tersebut. Karena saat ini sedang liburan, maka sebagian anak-anak panti tersebut pulang kampung. Jadi, hanya tinggal beberapa anak saja di panti tersebut.

Pertama, kami saling bersalaman dan berkenalan karena memang kami belum saling kenal. Namun, saat itu anak-anak panti tersebut terlihat begitu pendiam. Bahkan ketika menyebutkan namapun suara mereka hampir tak terdengar.

Setelah perkenalan, kami semua duduk melingkar di tikar. Vina kemudian membuka acara. Setelah itu, kami langsung melaksanakan acara yang telah kami programkan, yaitu membagi ilmu Bahasa Jepang. Sejak saat itu, mereka sudah mulai terbuka.

Acara belajar Bahasa Jepang dimulai dengan membagi anak-anak panti menjadi dua kelompok. Kemudian, Vina menerangkan tentang kata benda dan kata kerja. Kami membuat games agar suasana tidak kaku. Saya sendiri di sini membantu mempersiapkan games. Dalam games yang pertama, anak-anak panti melawan kami. Da hasilnya memang anak-anak panti yang menang. Karena itu, kami mendapat hukuman, yaitu menghibur mereka dengan menyanyi dan menari. Dan karena mereka yang menang, kami member hadiah yang sudah kami persiapkan untuk mereka. Kemudian kami semua shalat berjamaah dilanjutkan dengan makan siang bersama.

Setelah makan siang, kami lanjutkan dengan games yang bertujuan unutk mengasah kemampuan bahasa Jepang yang telah kami sampaikan sebelumnya dan mendalami kosakata bahasa Inggris mereka. Di sini, mereka tidak lagi melawan kami, tapi mereka dibagi menjadi dua kelompok. Mereka memberi nama kelompok mereka dengan nama kelompok “Macan (Manis Cantik)” dan “Cemut (Cewe Imut)”. Games kali ini dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama kami beri nama “Kata Berantai” di mana tiap kelompok harus bisa menyampaikan sebuah kalimat dalam bahasa Jepang dan mengartikannya. Dan kelompok yang paling cepat adalah yang mendapat nilai. Tahap kedua, kami beri nama “Gesture” di mana tiap kelompok harus menebak gerakan dari seorang anggota kelompok mereka dalam kata bahasa Inggris. Unutk Games kali ini, pemenangnya adalah kelompok Macan dan otomatis kelompok Cemut kalah. Seperti biasa, kelompok yang menang kami beri hadiah dan yang kalah diberi hukuman oleh yang menang. Dan akhirnya, yang kalah harus menyanyikan sebuah shalawat.

Setelah itu, waktu kerja kami di panti tersebut selesai. Akhirnya, saya menutup acara hari itu. Kemudian saya dan teman-teman saya berpamitan. Yang jelas hari itu kami senang karena anak-anak panti yang pertamanya begitu pendiam pada kami pada akhirnya bisa sedikit lebih terbuka dan bisa bercanda dengan kami.

Semarang,27 Desember 2010

-mba zura-

Minggu, Januari 09, 2011

Maaf, -untuk kalian yang tak kuketahui-

Maaf jika aku salah di mata kalian,
Maaf jika aku menyakiti kalian,
Maaf jika aku tak pernah benar untuk kalian,
Maaf jika aku membuat kalian marah,

Maaf atas ketidaktahuanku,
Maaf atas semua sikapku,
Maaf atas tingkah polahku,
Maaf atas aku, dia, dan juga mereka.


Maaf atas semuanya,
Dan maaf atas diriku sendiri.

-untuk kalian yang tak ku ketahui siapa-

Senin, Januari 03, 2011

Boleh Minta Sama Tuhan Ngga?

--sedang dalam proses--

Minggu, Januari 02, 2011

Pernahkah?

Pernahkah kamu berpikir tentang apa yang telah kamu lakukan?
Pada dirimu, diri orang lain, sekitarmu?
Tentang apa yang terjadi atas apa yang kamu lakukan?
Tentang akibat kepada dirimu, diri orang lain, dan sekitarmu?

Pernahkah kamu berpikir tentang apa yang kamu lakukan?
Apakah itu baik bagimu, bagi orang lain, bagi sekitarmu?
Apakah yang orang lain rasa atas apa yang kamu lakukan?

Pernahkah kamu berpikir apa yang kamu lakukan itu baik bagimu,
Baik bagi beberapa orang lain,
Namun menyakiti seseorang lain di luar sana?

Pernahkah kamu berpikir seorang lain telah hancur di sana,
tepat saat kamu bahagia bersama beberapa orang di sekitarmu?

Pernahkah kamu berpikir,
ketenanganmu di sini adalah musibah di sana?
Kebanaranmu di sini adalah kehancuran jauh di sana?
Lalu, apakah kamu pernah menyadari itu?
Dan jika kamu tersadar, apakah kamu juga akan hancurkan dirimu sendiri?
Tapi, ternyata penghancuran atas dirimu pun bukan perbaikan di sana,
tak akan memperbaiki apa yang telah hancur di sana.

Semarang, November, 18th 2010 : 03.05 p.m.

Petualangan, part III

Setelah melewati beberapa medan yang tidak aku bayangkan (dalam bayanganku, medannya biasa aja, udah bagus gitu), di mana di situ juga ada kejadian sandalnya Pee-Q Nurul yang dipake Lulu’ putus, dan banyak kejadian seperti aada yang digigit apalah, dan aku sendiri sering kepleset tapi ngga sampe jatuh dan nyusahin orang, akhirnya kita sampe di batu-batu gedhe yang licin buat mencapai curug Lawe. Disitu, Pee-Q nurul sama aku sempet kepleset, tapi keplesetnya Pee-Q Nurul lebih bahaya dari aku. Kalau dia ngga bisa menjaga biar ngga jatuh, udah ngga kebayang deh gimana nanti dia. Terus akhirnya kita sampai di Curug Lawe, yeeeeiiiiii. Kita foto dulu, tapi gara-gara foto itu, kita jadi basah, habis airnya kenceng banget sih. Tapi ngga apa-apa.


Lalu, lanjutin perjalanan, eh tapi tiba-tiba si Pee-Q Nurul teriak-teiak gitu. Memperlihatkan sesuatu di tangannya. Sebenernya aku yahu kalau itu lintah kecil, tapi aku ngga mau buat dia tambah histeris, jadi ya aku bilang aja ngga tahu dan akan aku tanyakan ke Kak Gema dan akan kita ambil. Tapi, sebelumnya aku juga sempet mau membuan itu hewan dari tangannya, tapi ngga berhasil. Lalu, diselametin deh itu tangannya Pee-Q Nurul pake rokok, terus air, terus dibakar deh akhirnya.


Kita terus berjalan-berjalan dan berjalan sampai hari akan gelap. Sekitar waktu maghrib kita sampai di Curug Benowo, aaaaaa aku suka. Niatnya sih mau foto, tapi berhubung setela aku coba ternyata sangat gelap dan ngga kelihatan, akhirnya kita cuma duduk-duduk istirahat di situ. Dan lanjutkan perjalan. Tapi, aku sempet main air lho hehe.


Di tengah jalan, si Pee-Q Nurul sama Kak Gema kena lintah lagi haha. Aku jadi curiga janga-jangan aku juga. Tapi, nggga kok. Dan hari pun semakin gelap. Dengan penerangan yang terbatas, kita lanjuin perjalan. Aku denger suara temen-temen udah hopeless gitu. Mereka udah keliatan pasrah. Aku punhanya mikir yang penting aku bisa sampai rumah dengan utuh. Waktu perjalan pulang, kita lucu deh. Kasih aba-aba hati-hati berantai gitu. Hmmm…tak bisa dijelaskan dengan kata-kata bagaiman perasaan kami yang belum makan siang, pada hari yang memang bener-bener gelap masih ada di hutan dan kita bener-bener ngga pernah ke sini dan ngga tah jalan(kecuali Kak Gema).


Di tengah jalan, ketemu anak PA (ngga tahu dari mana) dan mereka member penerangan dan menemani kita jalan pulang. Dan sejak itu, dari suara temen-temen, aku tahu mereka sudah optimis lagi haha. Oiya, di jalan pulang itu, kita juga nyeberangi sungai dan tanganku sempet keputer dan ngga bisa diangkat akhirnya. Haha, tapi ngga apa-apa kok.


Setelah lama jalan dan di jalan kita ngomongin macem-macem dan ada hubungannya dengan pelajaran. Akhirnya sampai juga di parkiran dan di sana kita seneng banget. Kita langsung bersih-bersih dan mengecek diri masing-masing. Ih ternyata kakiku juga digigit lintah haha darahnya banyak banget. Setelah lama akhirnya kita pulang dengan mental siap-siap dimarahin hhehhe.

Petualangan, Part II

Medan pertama, cukup baik-baik saja karena ini memang biasa saja. Aku pernah melalui yang tidak lebih baik dari mendan ini. Meskipun, sebenarnya aku cukup khawatir melalui medan ini karena ketidakseimbanganku. Apalagi di tengah perjalan di medan ini, hujan turun yang artinya jalanan medan ini menjadi basah dan licin yang benar-benar bisa memunculkan penyakit ketidakseimbanganku. Sebenarnya, dalam perjalanan aku berharap medan ini tidak terlalu panjang karena ya begitulah (ada sesuatu yang membahayakan diriku sendiri). Di medan ini, kita sempat menjumpai jembatan yang juga jadi objek foto kita. Hihihihi aku baru sadar saat berhenti di atas jembatan aku ngga teriak-teriak. Padahal kan biasanya kalau di atas jembatan yang kaya gitu aku udah melarikan diri cepat-cepat menyeberanginya dan menghindarinya.

 Medah kedua, (aku lupa) yang jelas medan-medan berikutnya itu hutan dengan jalan kecil dan kita juga harus melewati beberapa sungai (jelas tidak aku harapkan melewati sungai di atas sebatang kayu karena sekali lagi aku alergi keseimbangan). Nah, waktu sungai pertama itu, aku baru lihat aja udah lemes. Gimana ngga coba, aku harus ngelewati sebatang kayu bundar, buat nyeberangi itu sungai di mana keadaanku paling susah buat seimbang paling ngga pernah berhasil melewati halang rintang jalan di atas bambu. Tapi, aku bukan penyerah begitu saja. Aku nunggu tante Riang yang saat itu ada di depanku buat menyelesaikan penyeberangannya dulu. Lalu, dia berhenti di tepi daratan dan berniat baik membantu aku. Namun, aku tolak dan aku pinta dia minggir karena aku mau menyeberangi dengan selamat. Dan yap, aku berhasil. Tahu dengan cara apa? Aku lari. Haha. Itu sih teoriku sendiri, kalau pelan-pelan pasti aku udah jatuh basah kuyup dan bakal dapat hukuman di rumah lebih panjang. Tapi, keberuntungan tidak berpihak pada Kak Ajeng, dia jatuh dan basah deh, untung sungainya ngga dalam dan ngga begitu deras.


Lalu, kita lanjutin perjalan, dan ada sungai lagi. Aku lihat ada yang lepas sandal, ada yang tidak. Dan aku ngga lepas sandal. Terus, ketemu sungai lagi, aku lihat pada ngga lepas sandal, yaudah aku juga ngga lepas. Tapi, tiba-tiba waktu menyeberangi sungai, oops,sandalku terbawa arus. Aku sih, cuma diem melihat itu sandal terbawa arus. Aku udah pasrah aja deh, melihat banyak batu, dan memperhitungkan kemungkinan kalau kau mengejar itu sandal apakah bisa aku dapat apa ngga. Dan aku menyimpulkan ngga bakal bisa aku kejar. Dan terlalu beresiko, kalau aku kejar,:
pertama aku kepleset terus jatuh (udah biasa),
kedua aku kepleset,jatuh luka parah(biasa juga),
ketiga, aku kepleset, jatuh, kebawa arus (pasti aku ilang, karena ngga bisa renang hehe)
keepat, aku jatuh, hilang, ngga ditemukan, atau mati disitu (aku tahu aku berlebihan).


Dan dari kemungkinan-kemungkinan itu, aku menyimpulkan lagi, yang susah ntar ngga cuma aku, tapi temen-temenku juga. Jadi, biar mereka ngga susah (karena aku udah sering nyusahin), aku ikhlasin aja itu sandal.
Eh, tapi si Lulu’ yang jalan di belakangku malah mencoba menyelamatkan sandalku, tapi gagal, dan dilanjutin Kak Gema, eh berhasil. Waktu mereka mau ngambil itu sandal, aku bilang ngga perlu diambil (entah ada yang dengar atau tidak). –makasih sudah menyelamatkan sandalku-. Setelah kejadian, itu, kalau mau lewat sungai, sandalku selalu aku lepas. Haha.


-bersambung...
ini foto di jembatan