Rabu, September 28, 2011

Perkenalan dengan Ilmu Politik: Politik Bisa Menjadi Menyenangkan

“Apa itu politik?”
”Tempat para penjahat, mas. Penjahat kelas kakap.”
”Ah, politik itu kotor mas, isinya akal picik semua.”
”Saya nggak suka sama politik mas.”
”Politik itu mas, injak di bawah, rangkul di samping, jilat di atas.”


*** 

Barusan itu adalah tanggapan dari teman-temanku ketika ditanya mas Bima apa itu politik. Tidak ada jawaban yang bagus memang karena kenyataannya di Indonesia, seperti itulah wajah politik yang ditampilkan pada khalayak umum. Tapi tanggapan di atas seharusnya tidak ditunjukkan pada politik namun kepada aktor-aktor yang bermain di dalamnya. Karena sesungguhnya, politik itu jauh lebih baik dari tanggapan yang diberikan teman-temanku tadi.

Selasa, September 27, 2011

Perkenalan dengan Ilmu Politik

Pertemuan pertama dari mata kuliah Pengantar Ilmu Politik (PIP) ini berlangsung dengan agak tergesa-gesa. Hal ini dikarenakan mas Bima selaku dosen yang bersangkutan sedang berada di tengah rapat dengan rektorat untuk menaikkan akreditasi dari universitasku tercinta ini. Namun dia masih menyempatkan sedikit waktunya untuk memberikan sekedar pengenalan bagi mata kuliah ini.

”Siapa di antara kalian yang benci politik?” Tiba-tiba mas Bima mengajukan pertanyaan kepada kami. Hanya tiga orang yang mengacungkan tangan dan jawaban mereka masing-masing adalah karena politik itu ribet, picik, dan membingungkan. Kurasa memang jawaban

Minggu, September 18, 2011

Sekilas tentang Jakarta (2)

Di suatu siang di kantin kampusku tercinta, aku sedang menikmati makan siangku. Nasi putih ditemani ayam goreng dan teh hangat. Setelah selesai, aku segera pergi ke pemilik kantin untuk membayar menu yang kumakan tadi. "Semuanya jadi Rp 16,000." Katanya.

Itu mungkin hal yang biasa bagi orang yang telah lama tinggal di Jakarta namun bagiku, yang baru sebulan tinggal di Jakarta, itu adalah sebuah kejutan yang cukup hebat. Sebab di Semarang aku terbiasa membayar setengahnya untuk menu tadi.

Jakarta adalah kota yang mahal, baik mahal dalam gaya hidup maupun biaya hidup, jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia. Secara gaya hidup, orang Jakarta terbiasa hidup dalam kebudayaan materialistis dimana orang yang memiliki barang, sekalipun tidak tahu kegunaannya, selama harganya mahal akan sangat dihargai dan dihormati oleh orang lain di sekitarnya. Namun rasa hormat ini tidak selalu

Sabtu, September 10, 2011

Sekolah Baruku

Universitas Paramadina
Bina ilmu dan rekayasa
Karya wirausaha berakhlak mulia
Demi kebahagiaan bersama
Persaudaraan umat manusia

Lingkungan kampus pusat budaya
Mekarkan potensi kreatif
Suburkan tradisi intelektual
Muliakan kebebasan ilmiah
Reguklah kitab dan hikmah

Selamat datang insan muda
Datanglah dengan salamah
Selamat datang insan muda
Datanglah dengan salamah

***



Tiga bait puisi di atas merupakan mars dari sekolah baruku, di lingkungan baru, dan dengan teman-teman yang baru. Universitas Paramadina yang didirikan oleh alm. Prof. Dr. Nurcholish Madjid, yang lebih dikenal dengan Cak Nur, pada 10 Januari 1998 bukanlah sekedar universitas yang didirikan untuk menciptakan mesin pekerja ataupun mencari peluang bisnis. Melainkan untuk menciptakan sebuah universitas ideal yang mampu menciptakan generasi muda yang cakap dalam menjalankan bidangnya sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etika. Kira-kira itulah yang dapat kutangkap dari hari pertamaku di Universitas Paramadina ini.

Minggu, September 04, 2011

Pemikiran Kecil


Haluu, sekarang aku mau sedikit berbagi pikiranku saat ini.

Sebelumnya, aku mau bertanya, apa yang akan kamu lakukan jika kamu mendengar suatu berita bencana (sebut saja kebakaran) dan lokasinya tidak jauh dari tempatmu berada saat itu? Panik, takut, penasaran atau yang lainkah yang kamu rasa?
Yap, kebanyakan orang (selama aku mengamati) akan menghampiri tempat tersebut. Ada yang mencoba menolong, ada yang cuma histeris, atau bahkan cuma melihat saja. Dan yang pasti ada dalam kejadian seperti itu adalah kerumunan massa. Dan biasanya (dari pengamatanku) semakin lama massa akan semakin banyak –dengan catatan kejadian masih aktual-. Sering aku mendapat fakta kalau ternyata kebanyakan massa itu cuma ingin menyaksikan kejadian tersebut dan hanya melihat karena penasaran.
Sebenarnya kerumunan massa itu tidak salah. Wajar saja jika mereka penasaran dan ingin melihat langsung. Hanya saja, sering saya berpikir kalau sebenarnya sadar atau tidak sadar, itu membahayakan mereka jika mereka terlalu dekat. Selain itu, mereka juga bisa menghambat jalannya evakuasi korban. Padahal, dalam keadaan seperti itu, evakuasi korban sangat perlu dilakukan.
Di sini aku bukan mau menyalahkan mereka, seperti yang sudah aku tulis, itu semua wajar. Hanya saja, kita juga perlu memperhatikan hal-hal tersebut tadi. Sebenarnya juga, aku menulis ini berdasar pada kejadian tadi sore. Aku melihat ada suatu kebakaran di salah satu rumah sakit umum. Jujur sih, awalnya aku mau nulis tentang berita kebakaran itu, cuma aku ngga dapat narasumber dan ngga liat langsung di depan mata dan ngga tahu pasti kronologinya hehe. Yasudah, berhubung tiba-tiba ada hal lain yang menjadi perhatianku, jadilah aku menulis ini.
Kejadian yang aku lihat itu, di sekitar TKP banyak sekali massa. Padahal tiu juga di pinggir jalan raya. Dan yap semakin lama banyak massa yang datang, tapi tidak membantu. Mereka hanya melihat saja. Ada yang dibela-belain datang sambil membawa motor atau sepeda atau bahkan berjalan menggendong anaknya. Namun, yang ada mereka juga membuat macet jalan raya, dan menghambat evakuasi korban. Sampai-sampai petugas meminta mereka semua yang tidak berkepentingan untuk menyingkir.
Yap, itu sedikit pikiran dari aku. Tapi, masalahnya aku punya ide menulis ini tadi sore dan ngga langsung aku tulis dan alhasil sekarang cuma itu yang aku ingat haha.
Yasudah, intinya kerumunan massa yang tidak perlu itu kalau bisa sadar diri saja, jika memang keadaan menuntut untuk menyingkir lebih baik menyingkir saja. Lakukan saja hal yang kira-kira dapat membantu. Ini juga bukan berarti melarang adanya massa, sebab itu juga bermanfaat, dengan adanya massa informasi dapat tersebar, dan bantuan seharusnya bisa cepat datang pula.
Aiya ini ada berita kejadian yang sebenarnya kalau mau tahu. atau ini.


Semarang, 4 September 2011
-rida- 

Cerita tentang Perjalanan : Prolog


Kulihat debur air laut di balik jendela. Matahari hangat bersinar melaluinya. Terasakan angin sepoi-sepoi memanjaku mencoba menarikku keluar untuk bermain di sana, di tengah laut bersama para ikan. Namun aku bukan berada di atas kapal. Aku sedang berada di atas kereta api Fajar Utama yang membawaku dari Jakarta ke Semarang, berdesak-desakkan dengan penumpangnya yang kebanyakan tidur di lantai. Beruntung aku bisa mendapatkan kursi walau harus kuakui itu bukanlah kursi yang nyaman.


Kuingat-ingat lagi alasan keberangkatanku. Kira-kira setahun yang lalu ketika aku masih bersekolah di Semarang, di sebuah ruang kecil tua di belakang sekolah yang kami sebut basecamp. Aku tidak ingat siapa yang memulainya namun yang jelas saat itu kami sedang membicarakan rencana liburan yang juga sekaligus menjadi pesta perpisahan untuk kami. Dan saat itu entah kenapa nama Karimun Jawa yang tercetus.