Rabu, Oktober 26, 2011

Perkenalan dengan Ilmu Politik: Modal-Modal untuk Meraih Kekuasaan


Selama mempelajari ilmu politik, pasti ada sebuah kata yang selalu muncul entah dalam definisi, teori, atau praktek, yaitu kekuasaan. Ya, politik selalu identik dengan kekuasaan, bahkan bisa dikatakan bahwa segala hal yang bermuara pada kekuasaan adalah politik. Secara umum, kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain agar bertindak sesuai keinginannya meskipun orang itu tidak menyukainya. Dalam konteks politik, kekuasaan itu haruslah digunakan demi kepentingan orang banyak, bukan pribadi. Kekuasaan yang hanya digunakan untuk kepentingan pribadi adalah kekuasaan yang korup dan harus dilawan. Cara-cara untuk memperoleh kekuasaan itu sangatlah beragam dan itulah yang dipelajari dalam ilmu politik, namun yang

Minggu, Oktober 23, 2011

Indonesia (harus) Optimis!


Rasanya membaca buku karangan Denny Indrayana benar-benar memberi kesegaran bagi jiwa nasionalisku. Bagaimana tidak? Selama tiga belas tahun reformasi berjalan di Indonesia, aku selalu mendengar kabar-kabar pesimis dari berbagai media Indonesia. Kabar-kabar itu dengan bahasanya sendiri mengungkapkan keraguan mereka pada reformasi Indonesia yang dianggap mati suri, bahkan ada yang terang-terangan menyatakan bahwa Indonesia masa orde baru jauh lebih baik dari sekarang, sungguh miris mendengarnya. Aku, walaupun tidak dibesarkan pada masa orde baru, hanya dengan mendengar cerita-ceritanya dari orangtuaku, kakekku, atau membaca buku-buku karya pejuang orde baru, langsung dapat mengerti kengerian Indonesia di masa itu. Perbedaan pendapat dilarang, orang-orang kritis ditangakapi lalu dibunuh, suasana mencekam karena bayang-bayang Petrus (penembak misterius) ada di mana-mana, pemerintahan tanpa kontrol sama sekali dari publik, bagaimana mungkin ada yang bisa berpendapat bahwa masa itu jauh lebih baik dari sekarang? Oleh sebab itu, Denny Indrayana melalui bukunya yang berjudul Indonesia Optimis mencoba menangkis semua argumen-argumen itu. Melalui buku setebal 255 halaman ini,

Kamis, Oktober 20, 2011

Anies Baswedan on Public Speaking

Ini adalah sebuah laporan dari acara bertajuk Anies Baswedan on Public Speaking yang diselenggarakan di Universitas Paramadina pada 28 September lalu

***

Public speaking atau keterampilan bicara di depan orang banyak adalah sebuah kebutuhan mutlak bagi setiap individu. Adalah sebuah kesalahan jika kita menganggap hanya pejabat publik yang memerlukannya. Pada dasarnya, public speaking bertujuan untuk mengungkapkan ide dengan memilih kata-kata yang tepat dan bisa diterima oleh orang lain. Karena itulah, setiap individu wajib memiliki keterampilan public speaking agar ide-ide yang tersimpan di dalam kepalanya tidak menjadi sampah namun bermanfaat bagi orang lain. Hal inilah yang melandasi diadakannya acara bertajuk Anies Baswedan on Public Speaking di kampus Paramadina tercinta.

Narasumber dari acara ini adalah bapak Anies Baswedan sendiri yang telah dikenal luas sebagai seorang  public speaker yang hebat dan karismatik. Bagaimana caranya agar bisa menjadi  public speaker seperti pak Anies? Tentu saja itu bukanlah suatu hal yang bisa didapatkan dengan instan namun melalui proses yang amat lama dan jam terbang yang tinggi. Bahkan di awal acara, pak Anies sempat mengakui bahwa public speaking is a very difficult subject. Namun malam ini, pak Anies telah bersedia membagi sebagian ilmunya untuk memudahkan jalan kami menjadi seorang  public speaker yang baik. 


Poin-Poin Penting dalam Public speaking
Hal pertama yang perlu diketahui bagi orang yang akan berbicara di depan publik adalah, ”you are not alone.” public speaking adalah sebuah interaksi, dengan kata lain di sana ada pembicara dan ada pendengar. Jadi sebenarnya melakukan public speaking tidak ada bedanya dengan pembicaraan yang dilakukan dengan teman-teman setiap harinya. Kesalahan

Senin, Oktober 17, 2011

Cerita tentang Perjalanan: Hari Pertama (2)

KM Muria

Suasana dalam kapal sudah sangat ramai ketika kami masuk dan semua kursi yang ada di atas kapal sudah dipenuhi penumpang. Kurasa kami cukup beruntung karena telah mendapat peringatan dari bapak tadi. Dengan keadaan begini seharusnya kapal memang akan segera berangkat. Karena tidak mendapatkan kursi untuk duduk, maka duduklah kami di lantai geladak, tepatnya persis di depan tangga tempat orang berlalu-lalang naik dan turun. Hal ini tentu membuat kami tidak pernah dapat duduk dengan nyaman karena harus selalu menggeser posisi kami jika ada orang yang lewat. Melihat hal itu, mas Ryan memilih untuk duduk di tempat lain.

Selagi menunggu keberangkatan, kami melanjutkan obrolan kami di warung tadi. Aku tidak begitu ingat apa yang dibicarakan, namun yang jelas, kami semua merasa bahwa semuanya akan terasa sangat menyenangkan dan mudah. Pada akhirnya aku tahu bahwa kami telah meremehkan keganasan Laut Jawa.

Kamis, Oktober 13, 2011

Optimisme Denny Indrayana dalam Buku Terbarunya

Suatu hari Denny Indrayana, seorang aktivis yang sering mengkritik kebijakan pemerintah, mendapatkan telepon dari menteri sekretaris negara. Begitu kagetnya dia begitu mengetahui pesan yang disampaikan oleh presiden melalui mensesneg tersebut. Presiden menginginkan Denny untuk menjadi staf khususnya di bidang hukum.

Tentu saja Denny tidak langsung menerima tawaran tersebut. Alasannya adalah karena dia sadar bahwa masyarakat sudah sangat mengenalnya melalui kritik pedas yang selalu disampaikannya pada pemerintah, terutama kebijakan pemerintah yang menurutnya ’memberi sarana’ pada koruptor untuk melakukan aksinya. Jika dia menerima tawaran tersebut, maka akan menimbulkan kesan di masyarakat bahwa Denny telah dibungkam oleh presiden dengan iming-iming jabatan. Namun Denny juga menyadari bahwa pandangan kritis dari luar pemerintahan yang biasa dilakukannya saja tidaklah cukup untuk mengubah keadaan bangsa ini. Melakukan perubahan dari dalam sangatlah perlu dan tawaran ini

Minggu, Oktober 09, 2011

Cerita tentang Perjalanan: Hari Pertama (1)

Terminal Terboyo
Aku tidak ingat kapan aku mulai tertidur, tapi aku ingat kalau aku terbangun pukul 04:30, begitu pula dengan teman-temanku. Yah, meleset jauh sekali dari jadwal. Tak ada pilihan kami segera sarapan dan mandi. Entah kenapa Pram dan Aji tidak mau mandi tapi kurasa itu keputusan yang cukup baik agar dapat berangkat lebih cepat. 


Saat itulah Rianti mengirim pesan, ”Kawanku, aku sudah sampai. Kalian di mana?” 

Dan saat itu juga aku baru sadar bahwa biarpun kami telah membuat kemungkinan dan solusi seandainya Rianti datang terlambat, tapi kami sama sekali tidak memikirkan kemungkinan dan solusi jika kami yang datang terlambat. Memalukan rasanya karena kami hanya bisa menulis pesan balasan yang berbunyi, ”Sabar yaa.” Sambil berharap kami tidak ketinggalan bus menuju Jepara. 

Rabu, Oktober 05, 2011

Tahukah?

Tahukah kamu di negeri ini ada orang yang setiap bulan hanya punya Rp250,000 untuk makan, sementara di tempat lain ada orang yang bisa menghabiskan Rp7,000,000 semalam untuk berfoya-foya?

Tahukah bahwa orang yang berfoya-foya itu masih membutuhkan uang lebih banyak lagi sehingga mereka harus mencuri dari orang yang hanya memiliki Rp250,000 sebulan itu?

Tahukah kamu bahwa lebih dari setengah penduduk yang tinggal di kota Jakarta sebenarnya tidak berasal dari sana sehingga ketika lebaran tiba Jakarta menjadi sangat lengang?

Tahukah bahwa ketika lebaran tiba, ada ribuan keluarga di Indonesia yang harus bersedih karena menerima kabar mengenai anggota keluarganya yang tewas akibat mudik menggunakan motor?

Tahukah kamu bahwa di negeri ini kualitas pendidikan berbanding lurus dengan harganya sehingga hanya segelintir orang yang bisa menikmati pendidikan berkualitas?

Tahukah bahwa segelintir orang-orang yang telah menikmati pendidikan berkualitas itu lebih memilih bekerja di negeri lain karena merasa tidak dihargai oleh negeri ini?

Tahukah kenapa kesenjangan antara orang kaya dan miskin begitu jauh sekali di negeri ini dan seiring berjalannya waktu, jurang itu juga semakin bertambah lebar?

Tahukah bahwa ada sebagian kecil orang yang tertawa dan menikmati keadaan ini sementara sebagian besar orang menderita dibuatnya?

Tahukah bahwa Kapitalisme dan Feodalisme masih menjangkiti negeri ini?

Tahukah siapa yang patut disalahkan atas semua itu?

Tahukah?