Sabtu, September 22, 2012

Harus Menulis


Hari ini saya dipaksa untuk menulis, entah mengapa. Tetapi sekarang saya jadi bingung apa yang harus saya tulis. Sebenarnya, dari kemarin dan beberapa jam lalu pun saya juga kepikiran untuk menulis sesuatu. Namun, karena memang penyakit pelupa saya, jadilah saya lupa apa yang mau saya tulis karena tidak langsung saya tuliskan.

Karena hal di atas, saya sekarang jadi ingat tentang apa yang pernah disampaikan kaka kelas saya mengenai sebuah ide. Jadi, dalam suatu acara dia pernah menyampaikan bahwa saat ini banyak yang mengeluhkan tentang bagaimana caranya mendapatkan ide. Lalu, dia berkata kalau sebenarnya itu memang tidak mudah jika kita hanya berpikir bagaiman mendapatkan ide. Namun, biasanya ide itu didapat dari apa yang kita lakukan atau kit abaca atau kita lihat atau apapun yang kita alami dan apapun yang ada di sekitar kita jika kita mau memikirkan hal tersebut. Misalnya saja nih ya, kita melihat adanya suatu fenomena di alam lalu kita berpikir itu adalah masalah, kalau kita mau berpikir lagi, pasti aka nada pertanyaan-pertanyaan dari dalam diri kita sendiri. Misalnya, mengapa masalah tersebut bisa terjadi? Apa dampaknya? Lalu, bagaimana caranya mengatasi dan mencegah agar masalah tersebut tidak bertambah besar?

Kamis, September 20, 2012

Pergulatan

Belakangan ini rasanya sulit sekali untuk menulis. Kegiatan yang terlalu banyak dan diakhiri dengan perjuangan menghadapi kemacetan membuat otak ini terasa sangat berat untuk diputar. Sebetulnya itu bukan alasan untuk mengeluh. Seorang penulis memang wajar jika memiliki jam terbang yang tinggi dan itu seharusnya dapat digunakannya untuk memberikan inspirasi.

Ya, sebenarnya banyak sekali inspirasi yang kudapat akhir-akhir ini. Banyak kegiatan yang kuikuti, banyak orang yang kutemui, seharusnya jika dituliskan semua, itu bisa jadi buku yang tebalnya beratus-ratus halaman (serius). Masalahnya, menulis itu tidak mudah. Dan menyediakan waktu untuk menulis itu jelas sangat sangat tidak mudah.

Harus diakui, untuk menjadi seorang penulis profesional yang dapat menghidupi diri dan keluarganya hanya dari tulisannya, dibutuhkan kedisiplinan tingkat tentara. Setiap hari setidaknya harus ada waktu untuk membaca, berkegiatan outdoor, dan tentu saja menulis.Sebagai contoh, Raditya Dika, yang kita kenal memiliki mobilitas yang amat tinggi karena kemampuan standup comedy-nya, selalu menyediakan waktu tiga jam dari pukul 11 malam sampai 1 pagi hanya untuk menulis. Ia mengatakan bahwa ia tidak peduli seberapa banyak tulisan yang dihasilkan dalam tiga jam itu. Yang penting adalah kita bisa disiplin melakukan itu setiap hari tanpa terputus. Dengan begitu, ide akan selalu mengalir dengan mudah.

Dan ya, jujur cuma itu yang bisa kutulis dari hasil pergulatan pikiran malam ini hehe. Intinya, berusahalah untuk selalu menyediakan waktu untuk menulis, maka ide pun akan muncul. Semoga bermanfaat!

-G-

Selasa, September 04, 2012

Sang Petani

Di balik semua kerendahan hatinya tersimpan rasa yang tak dapat diungkapkan. Dia bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang petani di ladang yang tak pernah subur. Dia tahu bahwa apa yang dia kerjakan tak kan pernah menghasilkan sesuatu yang berarti. Namun dia telah memutuskan untuk menutup telinga dari apa yang dikatakan orang lain. Apa yang dia yakini, itulah yang akan dia lakukan dengan sepenuh hatinya.

Demi melakukan apa yang ia yakini, telah banyak hal yang dia korbankan. Namun itu tak mengapa karena baginya, hatinyalah yang terpenting. Selama dia masih memiliki hati, maka apapun dapat dia berikan. Selama dia dapat memuaskan hatinya, apapun akan ia lepaskan. Seperti itulah ketetapan yang dia miliki.

Suatu ketika, cangkul yang dia gunakan untuk pekerjaan sehari-harinya patah. Membuatnya tak dapat mengerjakan apa yang diyakini oleh hatinya. Tapi dia tidak sedih, karena dia tahu bahwa itu bukanlah sesuatu yang tidak dapat diperbaiki. Walaupun harus mengorbankan beberapa hari lagi, namun demi kembali melakukan pekerjaannya, dia merelakannya.

Akibat hari-hari yang dikorbankannya tersebut, satu-satunya kesempatan baginya untuk mendapat pekerjaan yang lain pun hilang. Ya, sebelumnya memang belum diceritakan, namun sesungguhnya petani tersebut telah mendapatkan penawaran untuk bekerja di ladang yang subur, jauh lebih baik dari ladang yang dikerjakannya. Dan dia menolaknya.

Hati sang petani tetap tak bisa berbohong. Selama hatinya menyatakan tidak, maka tidaklah satu-satunya kata yang akan ia keluarkan.

Setelah melalui beberapa hari yang melelahkan, akhirnya cangkul milik sang petani selesai diperbaiki. Hatinya begitu gembira, karena akhirnya dapat mengerjakan sesuatu yang sangat disukainya lagi. Dengan setengah berlari, sang petani bergegas menuju ladangnya yang tak pernah subur. Bermaksud untuk kembali mencangkul.

Kalau ditanya mengapa dia terus melakukan pekerjaan yang jelas-jelas tak membawa hasil semacam itu, dia hanya menjawabnya dengan seutas senyum. Senyum yang membuat sang penanya akan merasa tak sopan untuk kembali bertanya. Sang penanya kemudian akan merasa takjub dengan keteguhan hati sang petani. Dia kemudian akan mulai berdoa agar sang petani mendapatkan hasil yang baik baginya.

Siapakah dia? Dia bukan siapa-siapa
Hanya seorang petani
Di ladang yang tak pernah subur
Dan ia melakukan pekerjaannya dengan hati