Senin, Desember 23, 2013

Merindu lagi

Duhai malam, bagaimanakah ini? Ketika aku merindukan gemintang. Namun, langit menurunkan hujan.

Wahai langit, mengertikah engkau? Hujan hanya akan memperparah kerinduanku.

Tak tahukah kalian hei penghuni malam, bahwa aku sangat merindu? Dan hujan tak akan mampu meleburkan rindu seorang Juliet.

Hai hujan, mengapakah engkau hanya menyuburkan kerinduan ini? Membiarkan kerinduan ini terus bertumbuh dengan lancangnya.

Dan kau gemintang yang sedang bersembunyi, setega itukah kau membiarkan jiwa ini terus merindu?

Semarang, 22 Desember 2013; 10.01 pm
-r

Jumat, November 29, 2013

Mengapa?

Mengapa manusia gemar sekali bersandiwara?
Mengapa manusia gemar sekali memakai dua muka?
Apakah manusia tidak lelah melakukan hal tersebut sepanjang hidupnya?


Mengapa manusia suka sekali memakai topeng?
Apakah manusia terlalu malu pada mukanya sendiri?

Mengapa manusia gemar sekali bersandiwara?
Apakah manusia sudah terlalu muak dengan dirinya sendiri?

Mengapa manusia terlalu gemar bersandiwara?
Mengapa?


semarang, 29 november 2013
22.05 WIB
-ri

Rabu, November 27, 2013

Aku Ingin Bermain

Aku ingin bermain. Serius. Aku ingin bermain. Tapi aku tidak ingin bernostalgia permainan-permainan yang kulakukan semasa kecil dulu. Aku ingin bermain sekarang. Ya, sekarang. Aku ingin bermain untuk menghilangkan penat. Untuk menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak diperlukan. Untuk menjadi lebih baik. Atau setidaknya, untuk merasa menjadi lebih baik.

Aku ingin bermain video game. Aku ingin tenggelam dalam dunia fantasi nan imajinatif yang diciptakan oleh mereka. Aku ingin merasakan sesuatu yang tidak pernah kurasakan di dunia ini. Aku ingin bertemu makhluk-makhluk yang tak akan pernah kutemui di dunia ini. Kemudian aku ingin mengenal mereka lebih jauh lagi. Aku ingin membangkitkan rasa ingin tahu anak kecilku untuk menjelajah dan mengeksplorasi dunia tanpa batas tersebut.

Aku ingin berduel. Aku ingin merasakan ketegangan yang tak terdefinisikan ketika membuat sebuah langkah lalu menerka-nerka langkah apa yang akan dibuat lawanku. Aku ingin menjadi lebih baik dari lawanku. Aku ingin merasakan kebanggaan yang tak terdefinisikan ketika berhasil mengalahkan lawan yang kuanggap sangat kuat. Aku ingin merasakan kehangatan jabat tangan tanda sportivitas yang diberikan oleh lawanku ketika mereka dikalahkan atau mengalahkanku.

Aku ingin berjalan. Aku ingin menggerakkan tubuhku sesuai dengan desain yang diciptakan Tuhanku. Aku ingin memijaki tempat-tempat yang belum atau sulit terjangkau oleh orang lain. Aku ingin bertemu orang-orang baru. Aku ingin merasakan sejuknya udara pegunungan, hangatnya terik pantai, ganasnya gelombang lautan. Aku ingin menikmati semua hal yang dimiliki oleh alam, baik ataupun buruknya.

Aku ingin melupakan semua ini. Agar aku bisa melakukan itu semua.

Rabu, Oktober 23, 2013

Strange Rain: A Strange yet Appealing Game

Kemarin hujan turun lagi dan aku masih tetap terhibur dibuatnya. Seharusnya hujan lebih sering turun lagi. Tapi kalau bisa hujan jangan turun pada tanggal 9 November 2013 karena ada acara penting di hari itu hehe. 

Beberapa hari ini aku sedang memainkan sebuah game yang mungkin juga agak sulit untuk disebut sebagai game. Beberapa reviewer menyebut game ini sebagai sebuah simulator eksperimental. Sebuah game yang tidak memintamu untuk menamatkannya, namun hanya mengajakmu untuk masuk ke dunianya, dan merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh dalam game tersebut.

Game yang kumaksud ini berjudul Strange Rain. Game ini berada di platform ios dan aku memainkannya dengan iPad-ku. 

Rabu, Oktober 09, 2013

Dengar Hujan, Aku Ingin

Belakangan ini hawa kampus biru menjadi semakin panas, aku tidak tahu kenapa. Padahal tiga hari ini hujan turun terus menerus. Ah iya benar, musim hujan tampaknya sudah dimulai, waah rindunya pada cipratan-cipratan air yang dihasilkan mereka. Kemarin aku tiduran seharian di depan selasar aula, tepatnya di dekat taman peradaban, tepat ketika hujan turun. Dan ya Tuhan betapa nikmatnya tubuh dan hati ini karena mendapat siraman gemericik hujan yang sangat kurindukan. Sayang hujan itu tidak bertahan lama, kurasa hanya setengah jam. Tapi itu sudah cukup untuk membayar rasa rindu.

Bicara soal hujan rasanya tidak akan ada habis-habisnya. Hujan bagiku menyimpan berbagai kenangan dan memori baik yang indah dan yang buruk. Tapi untungnya aku tidak pernah mengingat hal-hal yang buruk jadi harusnya aku hanya memiliki memori indah bersama hujan hehe. Aku ingat berjalan bersama rida di bawah hujan sehabis pulang sekolah. Ketika itu dia menutupi kepalanya dengan jaket merah mungilnya sementara aku membiarkan kepalaku disiram oleh air hujan. Aku hanya berkata, "Buka saja tudungnya, hujan-hujanan enak." Tapi dia tidak mengikutinya, tentu saja. rida memang selalu sulit untuk diyakinkan.

Aku juga ingat berjalan di bawah hujan di tengah hutan pinus bersama Rendi, Novi, Ane, dan Rinta, ketika sedang mensurvei jalan Gunung Ungaran. Aku ingat hawa sejuk dan misterius yang dihasilkan hutan pinus saat itu dan betapa rindunya aku untuk menyusurinya lagi. Aku ingin ke sana lagi, tidak peduli dengan siapapun, aku ingin ke sana.

Aku ingin melupakan semua hal yang terjadi saat ini. Aku ingin agar semua hal-hal buruk yang terjadi saat ini dapat tersapu oleh deras air hujan yang akan terus membasahi bumi ini selama beberapa bulan ke depan. Dan aku ingin merasa lebih baik. Aku hanya ingin menjadi lebih baik lagi. Entah dengan cara apa, aku hanya ingin merasa lebih baik. 

Sabtu, Agustus 17, 2013

HUT RI ke-68: Sedikit Ocehan tak Penting

Merdeka, merdeka, merdeka. Sekali merdeka tetap merdeka. 

68 tahun lalu, slogan tersebut jika dituliskan akan menjadi seperti ini:

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA! SEKALI MERDEKA, TETAP MERDEKA!

Yaa, tentunya kita yang hidup di zaman ini tidak merasakan apa yang dialami mereka yang berjuang 68 tahun lalu. Tentunya kita boleh mendaptkan sedikit dispensasi jika kita bermalas-malasan menyanyikan lagu Indonesia Raya, bahkan terkadang lupa liriknya. Tentunya kita boleh dibiarkan jika kita lebih memilih tidur-tiduran di rumah daripada mengikuti upacara bendera di dekat rumah. Benarkah?

Beberapa mungkin setuju, beberapa mungkin tidak. Aku tidak ingin memberitahu posisiku. Tapi satu hal yang dapat kukatakan secara objektif adalah, perayaan kemerdekaan di negara ini menjadi semakin membosankan. Setiap tahun selalu sama. Upacara bendera yang membosankan, diikuti oleh pidato presiden yang membosankan, lomba-lomba 17-an yang sudah semakin jarang diadakan dari tahun ke tahun (entah mengapa, lomba-lomba 17-an yang tidak begitu membosankan malah tidak dipertahankan. Aneh). Ya, perayaan kemerdekaan di negara ini memang begitu plain, sampai-sampai mereka tidak mau berusaha untuk membuat logo yang menarik.

At least mereka berinovasi tahun lalu, well?

Namun kurasa aku mengerti alasannya. Kemarin aku baru saja membaca buku Autobiografi Sukarno yang ditulis dengan bantuan Cindy Adams. Pada bab 26 dari buku tersebut, Sukarno mengekspresikan bagaimana perasaannya terkait proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Beliau menulis demikian:

"After all the years of praying, planning, and hoping, this was not what I imagined the Supreme Occasion would be. This was hardly the moment of glory my mother envisioned when she faced toward the East. It was not what I pictured in my black tomb at Bantjeuj. There were no trumpets blowing. There was no choir of angels. No elaborate ritual. No uniformed equerry. It was not marked by reporters, photographers, speeches. It was not attended by dignitaries in striped trousers or glamorously clad ladies in satins and jewels. Nor was the setting the throne room of Queen Juliana's palace, but a little anteroom off the foyer of a Japanese admiral's house." (Sukarno, 1965: h. 217)
Ya, bahkan Sukarno pun mengaku kecewa dengan bagaimana proklamasi kemerdekaan Indonesia dijalankan. Semuanya terlalu plain. Tidak ada musik, tidak ada apa pun. Yang ada hanyalah pidato pendek dari Bung Karno yang berisi kalimat proklamasi yang berjumlah kurang lebih 24 kata. Setelah itu semuanya bernyanyi lagu Indonesia Raya dan segera kembali ke posnya masing-masing untuk bersiap berperang menghadapi tentara Jepang yang tersisa. And that's it. That's how our independence go. Very much plain.

Jadi jika kita bertanya mengapa perayaan kemerdekaan negara ini begitu membosankan, maka sebenarnya itu memang disengaja, agar kita bisa merasakan juga seperti apa perayaan kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya. Namun tentunya kita harus paham juga bahwa ketika itu negara kita sedang dalam situasi perang. Dalam situasi tersebut, semua waktu dicurahkan untuk menyiapkan persenjataan, memobilisasi massa, menyebarkan berita, kongres, rapat, dsb. Sekedar 1 jam untuk menyiapkan upacara bendera tidak akan terpikirkan oleh mereka, apalagi untuk menyiapkan trompet, musik, dan istana.

Hari ini pun, negara ini masih dalam situasi perang. Ya, perang perebutan kekuasaan. Semua pihak sedang sibuk mencurahkan waktunya untuk urusan yang lebih penting - tampil kece di depan publik. Jika dilihat di TV dan jalanan, kita tentu semakin sering melihat wajah orang-orang yang mengaku pemimpin kita tersenyum begitu manis sambil mengucapkan selamat. Selamat berpuasa, selamat berlebaran, dst, dst. Ooh betapa sibuknya mereka sampai-sampai mereka tidak dapat menyiapkan sebuah acara yang menarik untuk memperingati kemerdekaan negara ini. Tapi semua itu tidak apa, karena dengan demikian kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Bung Karno dan para pejuang kemerdekaan kita 68 tahun lalu. Agar kita dapat merasakan betapa membosankannya upacara bendera, betapa pegalnya kaki ini sambil tersiksa mendegarkan pidato tak bermutu dari pembina upacara.

Aku rasa tulisan ini menjadi semakin tidak jelas, aku tahu itu. Tapi apapun yang kukatakan di atas, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintai Indonesia. Aku mencintai orang-orangnya, aku mencintai tanahnya, aku mencintai kebudayaannya, aku mencintai semua yang dimiliki oleh Indonesia. Suatu saat nanti, aku ingin membuat perayaan kemerdekaan yang lebih baik untuk Indonesia dan aku akan memastikan bahwa kata MERDEKA akan tetap ditulis dengan huruf kapital dan Indonesia Raya bukanlah sekedar lagu, melainkan sebuah kenyataan.

Untuk saat ini aku hanya bisa berdoa, sambil mengucap Dirgahayu Republik Indonesia ke-68! Semoga Indonesia tetap jaya selama-lamanya!

Much much better than the official logo

Jumat, Agustus 16, 2013

ALL IN ONE

Saya memiliki sebuah benda yang menjadi favorit saya apabila saya berpergian. Baik ketika saya pergi jauh, maupun dekat. Pergi selama berhari-hari maupun hanya sehari. Benda ini bisa dikatakan sering saya bawa. Mungkin hampir selalu saya bawa. Mengapa? Karena bagi saya benda ini cukup berguna dan multifungsi haha.

Sebenarnya benda ini hanyalah seheleai kain. Dan sering disebut dengan sebutan pashmina haha. Oke, bagi para perempuan mungkin tak asing dengan benda ini. Yap, kain serba berguna menurut saya hehe.

Pertama, sebenarnya kain ini berfungsi untuk menutup rambut untuk digunakan sebagai kerudung begitu. Saya pernah menggunakannya. Salah satunya ketika saya masih sekolah dan sore harinya ada kegiatan yang mengharuskan kami para siswi mengenakan hijab. Berhubung sekolahan saya cukup jauh  dan saya ada kegiatan di sekolah pada pagi dan siang harinya, maka saya bawalah pashmina. Jadi, saya kenakan pashmina tersebut saat kegiatan sore sebagai penutup rambut.

Rabu, Agustus 14, 2013

Awal dari Takdir

Atap sel itu sudah cukup tua, tak heran jika mulai muncul sebuah retakan di sana. Dari retakan tersebut, sinar matahari menyelinap masuk, menerangi sang penghuni sel, dan mengingatkannya pada Dewa Matahari yang dipujanya. Ketika hari hujan, tetesan air akan menyelinap masuk, memberikan kesejukan semu yang sudah lama tidak didapatkan oleh sang penghuni sel dari Dewa Air yang dipujanya. 

Sudah seratus tahun sang penghuni sel dikurung di sana. Semua bermula dari sebuah hari yang menyedihkan dimana sebuah wabah aneh menyerang desa tempat tinggalnya. Orang-orang yang terkena wabah ini akan mengalami kerusakan kulit akut yang membuatnya menjadi berkerut-kerut dan sangat tipis, sampai-sampai organ dalam seseorang dapat terlihat dengan jelas, persis seperti mayat yang telah dimakan cacing. Wabah ini praktis menghilangkan indera perasa seseorang dan melemahkannya kemampuan fisiknya secara drastis. Anehnya, orang yang terkena wabah ini tidak bisa mati. Ya, keabadian adalah gejala berikutnya dari wabah ini. Namun apa artinya keabadian dalam penderitaan?

Orang-orang yang terkena wabah aneh tersebut disebut dengan undead, makhluk yang tidak hidup namun juga tidak mati. Demi mencegah meluasnya wabah tersebut, para undead pun diamankan oleh pasukan Kerajaan dan dikumpulkan jadi satu dalam sebuah fasilitas kesehatan bernama Undead Asylum. Namun meski dikatakan fasilitas kesehatan, tidak ada usaha apapun yang dilakukan untuk para Undead. Pasukan Kerajaan hanya mengurung mereka di dalam selnya masing-masing dan membiarkan mereka membusuk sampai hari kiamat.

Kini tak ada lagi yang dapat dilakukan oleh sang penghuni sel selain mengamati retakan di atas selnya. Dia hanya dapat pasrah dan menyerahkan segalanya pada takdir.

Ya, takdir.

"Inikah takdirku?"

Kau memiliki takdir yang besar, nak

Suara tersebut hadir tiba-tiba, menjawab gumaman sang penghuni sel. Sontak ia pun kaget sambil berusaha mencari-cari sumber suara tersebut. Namun ternyata kejutan belum berakhir. Dari atap sel terdengar suara benda tumpul yang dibenturkan ke benda keras. Tampaknya seseorang berusaha menghancurkan atap selnya melalui retakan yang selama ini diamatinya. Tak perlu waktu lama, sebuah lubang pun tercipta di atap selnya, cukup besar untuk dimasuki orang. Dari balik lubang tersebut, sang penghuni sel melihat sesosok manusia yang mengenakan baju zirah, sepertinya ksatria dari Kerajaan. Ksatria tersebut berusaha mengisyaratkan sesuatu, kemudian melemparkan sesuatu ke dalam sel yang ternyata adalah mayat manusia yang mengenakan baju zirah juga. Setelah melakukan hal tersebut, sang ksatria pun pergi meninggalkan sang penghuni sel dalam kebingungan. 

"Apa yang sebenarnya sedang terjadi?"

Dengan kepala penuh tanya, sang penghuni sel berusaha mendekati mayat tersebut. Tubuh yang telah bertahun-tahun tak pernah digerakkan itu menjadi beban baginya untuk sekedar mendekati mayat itu. Ketika usahanya berhasil, hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa seluruh tubuh mayat tersebut. Pada bagian depan zirah yang dikenakan mayat tersebut, terdapat sebuah tulisan yang sepertinya ditulis dengan bara api.

Minum air suci yang ada di dalam botol. Kenakan baju zirah. 
Ambil kunci. Dan keluarlah dari tempat ini sekarang!

Sebuah perintah yang sederhana, namun tetap memberikan tanda tanya besar di kepala si penghuni sel. "Apa yang dia ingin untuk kulakukan?"

Namun pada akhirnya sang penghuni sel tetap melaksanakan perintah misterius tersebut. Seratus tahun dikurung tanpa ada sesuatu pun yang terjadi membuatnya tidak peduli akan risiko dari melakukan perintah orang yang tak dikenal.

Pertama dia mengambil botol yang berada di sabuk mayat tersebut, dan meminumnya. Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu bergejolak di dalam tubuhnya. Dia merasakan panas, namun bukan panas yang membunuh. Panas tersebut memberikan kehangatan. Kehangatan yang tidak dapat dirasakannya selama lebih dari seratus tahun.

"Indera perasaku kembali?"

Saking bersemangatnya dengan kejadian itu, sang penghuni sel pun melompat-lompat kegirangan dan kemudian merasa kaget. Air yang diminumnya telah mengembalikan kekuatan fisiknya lagi.

"Ini sungguh tidak mungkin. Aku menjadi manusia lagi?"

Namun sang penghuni sel harus kembali merasakan kekecewaan ketika melihat pantulan wajahnya pada baju zirah tersebut. Masih wajah yang sama, berkerut-kerut, dan berlubang di mana-mana. Ia pun segera melaksanakan perintah kedua, mengenakan baju zirah yang dipakai oleh mayat tersebut. Ketika melepas baju zirahnya, sang penghuni sel begitu terkejut begitu melihat wajah mayat tersebut. Wajah yang tirus, berkerut-kerut, dan berlubang. Sang penghuni sel seakan melihat cermin.

"Jadi undead pun dapat mati?"

Semua hal yang terjadi hari ini terlalu membingungkan bagi sang penghuni sel. Kepalanya serasa dipenuhi oleh tanda tanya yang amat banyak. Namun, dia tak memiliki pilihan selain melaksanakan perintah misterius tersebut. Setelah mengenakan baju zirah milik mayat tadi, sang penghuni sel menemukan sebuah kunci di sabuknya. Dengan sedikit ragu, ia memasukkan kunci tersebut ke lubang pintu selnya, dan mendengar suara 'klik'. Kunci tersebut ternyata benar-benar cocok dengan pintu selnya. Kini, ia hanya perlu melaksanakan perintah keempat, keluar dari Undead Asylum.

Sang penghuni sel mengingat-ingat lagi hari dimana ia diantar menuju Undead Asylum. Tidak ada rantai ataupun cambuk, karena tempat ini memang bukanlah penjara. Namun ia ingat betul bagaimana sikap ksatria Kerajaan ketika mengantarnya. Tombak terus digenggam dalam posisi siaga, pemanah berada di posisi menembak, semua seolah disiapkan untuk mencegahnya dan teman-teman undead-nya kabur dari tempat ini.

Lebih lagi yang membuatnya takut adalah sosok yang menjaga pintu gerbang Undead Asylum. Dengan mata berwarna merah menyala dan gigi yang penuh taring, sosok itu memandang sang penghuni sel dan teman-teman undead-nya dari ketinggian sekitar lima meter. Sosok tersebut dipanggil dengan Asylum Demon. Dia adalah monster raksasa yang merupakan perpaduan Naga Gendut Eropa dan Iblis dari Neraka. Monster tersebut telah adalah hadiah dari raja Neraka untuk Kerajaan sebagai bukti aliansi mereka. Raja pun menggunakannya untuk menjaga Undead Asylum.

Sambil berjalan menyusuri lorong Undead Asylum, sang penghuni sel terus berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari Undead Asylum tanpa ketahuan oleh Asylum Demon. 

Entah takdir macam apa yang menunggunya setelah ini.

-cerita diadaptasi dari video game Dark Souls

Selasa, Agustus 13, 2013

Aléatoire

Penderitaan dan kesengsaraan adalah teman sehari-hari mereka. Bekerja dari pagi sampai malam hanya demi tiga keping uang perak adalah kegiatan sehari-hari mereka. Mata pedang dan senapan yang diacungkan pada mereka adalah yang membuat mereka tetap melakukan hal tersebut. Namun mereka tidak diam. Bagaimana mungkin mereka bisa diam?

Penderitaan dan kesengsaraan yang mereka alami tidak akan bertahan lama. Ketika seorang manusia telah didorong sampai batasnya, maka mereka tidak akan merasakan apa-apa lagi. Pada akhirnya mereka akan bergerak. Bagaimana mungkin mereka tidak bergerak?

Lebih dari segalanya, mereka ingin bebas. Namun untuk mendapatkannya, maka mereka harus menahan diri. Tahan sebentar, sebentar, dan tahan sampai waktunya tiba. Tanpa disadari, jumlah mereka terus meningkat dan tak ada lagi yang dapat menghentikannya. Revolusi akan segera dimulai.

Les Miserables

Rabu, Juli 17, 2013

Liburan bersama Dark Souls

Liburan oh liburan. Banyak yang bilang kalau liburan itu merubah orang. Otak yang sehari-hari digunakan untuk menganalisis soal-soal dalam kuliah menjadi tidak terpakai lagi. Kaki yang sehari-hari digunakan untuk berpindah-pindah ruang kuliah menjadi tidak terpakai lagi. Sebaliknya, otak jadi lebih fokus dalam memecahkan puzzle-puzzle yang ada dalam video game. Kaki jadi lebih fokus untuk menahan berat badan yang sama sekali tidak mau berpindah dari sofa empuk tempat ternyaman untuk bermain video game. Hasilnya, otak pun menjadi tumpul dan kaki pun menjadi lemas. Kira-kira itulah perubahan yang terjadi padaku selama liburan ini.

Semua ini terjadi karena sebuah video game yang kebetulan kubeli di awal liburan ini. Judulnya adalah Dark Souls: Prepare to Die Edition.
Yah, judulnya memang mengerikan. . .

Jumat, Juli 12, 2013

P E S I M I S ??????????

Beberapa tahun terakhir ini saya berhadapan dengan orang-orang yang pesimis. Dan tentu saja, saya bukan termasuk orang yang bisa sangat sabar dan bukan termasuk orang yang dengan mudah begitu saja merasa pesimis. Meskipun saya seorang penganut yang menjunjung tinggi tentang penghargaan terhadap perbedaan, saya tetap saja memiliki sebuah titik jenuh dalam menghadai orang-orang pesimis.

sumber gambar : google

Bagi saya, merasa pesimis yang berlebihan itu membosankan, melelahkan, menyakitkan, dan tentu saja sangat menyebalkan. Bahkan pernah sekali waktu, saya menuliskan sebuah keluhan di salah satu akun jejaring sosial saya ketika saya merasa benar-benar jenuh hingga muak menghadapi orang pesimis yang sudah berlebihan. Saat itu saya sempat menulis lebih untuk diri saya sendiri seperti ini, “soalnya ya, orang pesimis itu ngeselin. Serius deh.”

baca selengkapnya>>

Selasa, Mei 28, 2013

Menjawab Pertanyaan Dasar Kehidupan


Manusia selalu bertanya mengenai makna kehidupan. Pertanyaan paling sederhana yang harusnya pernah ditanyakan oleh seorang manusia adalah, "Mengapa aku hidup?" Bagaimana manusia menjawab pertanyaan itulah yang akan menentukan jati diri mereka, tindakan mereka, bahkan sampai mampu menentukan masa depan mereka. Pengalaman dan pengaruh dari hal-hal disekitarnya akan membantu manusia untuk menemukan jawaban dari pertanyaan sederhana tersebut.

Rabu, Mei 22, 2013

Secuil tentang Future Leader Summit 2013,


Mei 2013 merupakan bulan yang dipilih oleh sekelompok orang untuk melaksanakan suatu kegiatan tahunan yang spektakuler. Kegiatan yang berskala nasional ini diberi nama Future Leader Summit 2013. Tahun ini sudah ketiga kalinya kegiatan ini dilaksanakan di salah satu kota di Indonesia. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, untuk tahun ini kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari satu malam. Dalam waktu dua hari tersebut, panitia berusaha memberikan suatu kegiatan yang bermanfaat dan menginspirasi bagi para peserta FLS untuk bisa berkontribusi dalam membuat bangsa ini menjadi lebih baik.

Tema FLS 2013 ini adalah “Integrating Youth Action for Nation”. Pada kegiatan kali ini, para peserta terbagi ke dalam 6 room yang berbeda. Rooms tersebut terdiri dari art and culture, human rights, eduacation, helathcare, environment, dan business development. Para peserta akan belajar berbagai hal sensuai dengan room masing-masing.

Kegiatan Future Leader Summit 2013 dimulai pada hari Sabtu, 18 Mei 2013. Para peserta dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dan bertemu di salah satu kawasan wisata di Kota Semarang, yaitu klenteng Sam Poo Kong. Di sini, para peserta akan dikelompokkan sesuai dengan room masing-masing. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan menuju rumah inspirasi sesuai dengan room masing-masing. Untuk room human rights, akan mengunjungi The School of Life.

Minggu, April 21, 2013

Piano Boy

Aku tidak pernah meminta hidup yang seperti ini, tapi aku tahu aku dapat selalu menyesuaikan diri. Aku seorang anak yang dilahirkan di atas kapal. Dibesarkan tanpa mengenal orangtuaku yang meninggalkanku di geladak kapal pada suatu malam. Beruntung (?) salah satu kru kapal menemukanku, sebelum aku mati kedinginan. Kini aku memanggilnya ayah, walaupun kru kapal lain selalu bertanya kepadanya, "Mitch, memang sejak kapan kau menikah?"

Aku tahu pertanyaan itu selalu mengingatkanku bahwa aku adalah seorang anak yang lahir tanpa mendapatkan pelukan hangat dari seseorang yang dapat kupanggil ibu. Dahulu aku sering bersedih hati memikirkannya, tapi sekarang tidak. Tahu kenapa? Karena aku punya seorang teman yang selalu setia menemaniku di saat seperti apapun. Tapi jangan bayangkan bahwa temanku itu adalah seorang bocah seumuranku yang selalu memakai rompi hitam dan topi pelaut kemanapun aku pergi, bukan.

Temanku adalah sebuah meja kayu yang memiliki 88 senar yang semuanya saling terhubung ke tuts-tuts indah yang selalu menyenangkan untuk dipijiti. Ya, temanku adalah sebuah grand piano yang selalu berdiri dengan setia di ruang utama kapal, tempat dimana setiap malamnya diadakan pesta dan musik yang tak pernah berhenti. Aku tak bisa mengatakan aku menyukai suasana seperti itu, tapi aku bisa mengatakan bahwa aku selalu menyukai bermain piano di saat seperti apapun, kapanpun, dan dimanapun (walaupun dalam kasus ini aku hanya bisa memainkannya di ruang utama kapal).

Supaya kalian tidak penasaran bagaimana aku bisa berakhir berteman dengan meja kayu yang memiliki bunyi indah itu, biar aku ceritakan kisah malam itu. Saat itu aku berumur 7 tahun. Ayahku sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya sehari-hari, memastikan kapal tetap berjalan lancar, dengan cara memasok batubara ke mesin kapal. Aku sungguh bosan di hari itu, karena tidak ada yang dapat menemaniku bermain selagi ayahku bekerja, sementara aku sudah sangat bosan dengan mainan kapal-kapalan yang diberikan ayah seminggu lalu, yang ia dapat dari menawar pedagang China habis-habisan. Aku agak kasihan dengan pedagang itu sesungguhnya, tapi hanya dalam hati.

Jadi karena bosan, aku pun memutuskan untuk kabur dari kamarku dan berjalan-jalan mengelilingi kapal. Dan seperti yang dapat kalian tebak, aku terhenti di ruang utama, tepat di depan meja kayu yang aku pun belum tahu apa namanya. Apa yang terjadi setelah itu adalah aku duduk di kursi yang ada dan mulai memainkan piano itu. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi, selain bunyi indah yang kuhasilkan dari meja itu. Bunyi itu sungguh indah sampai aku terhanyut ke dalamnya tanpa dapat kembali.

Tapi pada akhirnya aku pun kelelahan, sehingga kuputuskan untuk mengakhiri permainanku. Barulah ketika itu aku sadar bahwa puluhan orang telah berkerumun di sekitarku, memandangku tak percaya. Aku melihat kapten kapal yang masih mengenakan piyamanya menjatuhkan cangkir kopinya ke lantai saking kagetnya ia. Aku tak mengerti kenapa.

Setelah malam itu, aku selalu diminta untuk bermain piano di setiap pesta. Aku selalu menikmat setiap saatnya. Entah kenapa, aku selalu diberikan kesempatan untuk bermain solo. Pada saat aku melakukannya, para pemain alat musik yang lain akan menghentikan permainannya dan membiarkan hanya suara piano yang kumainkan menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar di ruang utama yang luas itu.

Aku berharap aku bisa tetap bersama pianoku selamanya.

Diadaptasi dari film "The Legend of 1900" yang disutradarai oleh Giuseppe Tornatore

Rabu, Maret 27, 2013

Tentang Argo


Pertama kali aku mendengar soal film Argo adalah ketika aku membaca headline Kompas yang memberitakan mengenai pemenang Academy Awards atau yang biasa kita kenal dengan Oscar. Seperti yang kita ketahui, film Argo yang disutradarai dan dibintangi oleh Ben Affleck memenangkan penghargaan Best Pictures. Didorong oleh rasa penasaran, aku pun mencari film ini dan menontonnya.

Rabu, Maret 13, 2013

Sebuah Tulisan tentang Tulisan


Tulisan bukanlah sekedar tulisan. Tulisan merupakan sebentuk ide manusia yang kemudian dibekukan agar dapat disampaikan pada manusia-manusia lainnya. Namun berbeda dengan media lainnya yang juga digunakan untuk menyampaikan ide, seperti komunikasi verbal, tulisan tidak akan terpengaruh oleh ruang dan waktu. Sebuah tulisan dapat membekukan ide dalam ruang apapun mulai dari selembar daun, dinding-dinding gua, kertas kosong, bahkan sampai langit yang luas pun dapat menjadi ruang bagi sebuah tulisan. 

Sabtu, Maret 02, 2013

1 Maret 2013


Jumat, 1 Maret 2013 yang lalu, GPBS (Ganesha Pramodha Branita Sandhini) atau sama dengan PMR Wira SMA N 3 Semarang berulangtahun. Saya tidak begitu ingat yang ke 26 apa 25. Tapi kalau menurutku sih 25, tapi sepertinya 26, jadi entahlah hehe.
Mumpung lagi ulangtahun nih, kan pas banget momennya, saya mau bahas tentang PMR. Ini nih buka ini kalau tulisan saya tentang pmr :
                                                                                 
Kalau di sini saya mau nulis tentang GPBS saja.

Rabu, Februari 27, 2013

Liburan?


Liburan kali ini banyak sekali yang ingin saya lakukan. Mulai dari mengikuti kegiatan-kegiatan yang ingin saya lakukan sejak dulu, hingga kegiatan yang baru saja saya ketahui. Namun, tetap saja keinginan-keinginan tersebut hanya tinggal keinginan. Memang seharusnya saya tahu dari awal apa konsekuensinya jika saya masuk ke dalam sistem yang saya masuki saat ini. Dan inilah salah satunya. Jadi, saya tidak boleh menjadikannya sebagai suatu keluhan, ya meskipun saya tetap saja melakukannya.

Namun saya tidak begitu kecewa hingga terlalu kecewa. Sebab, meskipun masih diribetkan dengan segala urusan yang ada hubungannya dengan sistem itu. masih diharuskan mengunjungi kampus, entah kegiatan resmi dari kampus atau bukan. Nyatanya, saya masih bisa melarikan diri ke kota lain hehe, ya, meskipun setelah itu saya jatuh sakit haha.

Tiga hari dari liburan yang seharusnya selama hampir dua bulan tersebut, saya sempatkan waktu untuk melihat yang baru. Untuk mengunjungi tempat baru. Sebenarnya, kalau diingat-ingat bagaimana saya bisa sampai ke sana hal itu adalah sebuah keegoisan dari diri saya sendiri. Bagaimana tidak? Dari awal saya sudah mengatakan bahwa, “entah bagaimanapun, tiga hari itu saya harus pergi. Saya ngga mau peduli ada apapun. Apapun ngga bisa menghalangi.: haha

Minggu, Februari 03, 2013

Merindu Ceri


Bebrapa saat yang lalu saya melakukan apa itu yang disebut dengan pengalihan (kurang lebih seperti itu saya menyebutnya). Dan saat ini, saya sudah kembali menjadi seorang yang sedikitnya saya kenal.

Saya membukai kotak-kotak penuh kenangan dalam layar yang tak begitu lebar. Saya menemukan berbagai macam potret yang melukiskan kehidupan dan keadaan saya saat itu. Saya juga menemui bagaimana saja kondisi hati saya saat itu, ya melalui potret mata yang tentu saja dapat saya baca dengan mudahnya. Dari situ saya menemukan begitu banyak hal berbeda yang telah dialami oleh gambaran sesosok anak hanya dalam waktu beberapa tahun. Betapa ternyata banyak hal baru yang muncul dan banyak juga hal lama yang seolah menghilang entah ditelan apa.

Kamis, Januari 17, 2013

Sebuah Keterkesanan


Perempuan Bali, sejak dulu ketika saya masih menginjak umur awal belasan saya sudah begitu terkesan dengan mereka. Bahkan, hingga sekarang pun saya masih terkesan dengan para perempuan Bali. Di samping dari tariannya yang begitu indah di mata saya, saya melihat kisah hidup perempuan Bali yang hebat juga. Ditambah lagi setelah saya menonton suatu tayangan di sebuah acara televisi yang membahas mengenai perempuan Bali, beberapa tahun silam.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin sekali membahas mengenai perempuan Bali. Namun, seperti biasa, sebelum saya menuliskan apa yang ingin saya bahas, saya mulai menambah informasi mengenai hal tersebut, yaitu perempuan Bali. Sebab tidak mungkin saya hanya bisa menuliskannya dengan hanya mengandalkan pengetahuan yang masih sangat terbatas yang telah saya dapat semenjak bertahun-tahun lalu.

Tetapi, pada kenyataannya, setelah membaca sekian banyak artikel yan mengulas mengenai perempuan Bali, saya malah hanya bisa terdiam. Terlalu banyak yang ingin saya sampaikan. Dan betapa rumitnya menyampaikan hal-hal yang ternyata tidak sesederhana dengan apa yang saya rasakan.

Jadi, di sini saya minta maaf, ternyata setelah menulis sekian kata ini, saya tidak dapat membahas mengenai perempuan Bali saat ini juga. Saya merasa masih belum pantas untuk menuliskannya dan saya menjadi tetap semakin terkesan kepada mereka-mereka.

Untuk siapa saja yang membaca tulisan ini saya hanya bisa menyarankan untuk mencoba mencari informasi lain mengenasi perempuan Bali. Sebab apa yang ada dalam kehidupan mereka terlihat begitu menarik.

Dan satu, saya sangat menyukai gambaran mengenai perempuan Bali yang selalu digambarkan sebagai seorang figure perempuan yang mandiri, ulet, beretos kerja tinngi, tetapi mereka tetap memiliki sebuah bakti kepada keluarga mereka yang amat tinngi.


Semarang, Januari 2013
-rida

Rabu, Januari 16, 2013

GERD ?


Gastroesophageal Reflux Disease atau disebut GERD merupakan salah satu jenis penyakit lambung yang belum banyak diketahui oleh masyarakat luas di Indonesia seperti halnya maag. Meski begitu, sama halnya dengan penyakit lainnya, penyakit ini tak bisa jika diabaikan begitu saja dan dianggap remeh. Sebab, penyakit ini merupakan salah satu penyakit kronik yang bisa menyebabkan terjadinya kanker kerongkongan atau kanker lambung.

GERD adalah suatu kondisi di mana terjadi refluks/regurgitasi isi lambung/asam lambung naik ke atas atau dengan kata lain mengalir balik dari lambung menuju kerongkongan (esophagus). Dengan adanya aliran balik ini dapat menyebabkan luka pada kerongkongan.

Imajinasi dalam Hujan


Senin, 14 Januari 2013 ini, saya ada kegiatan di kampus. Memang, seharusnya sudah libur. Tapi, itu hanya kuliahnya saja yang libur, sementara kegiatan yang lainnya masih mengantri untuk saya lakukan.

Hari itu, saya ada kumpul bersama teman-teman UNSUR. Ya, meskipun hujan badai sedang melanda kota saya hari itu, saya dan beberapa teman saya tetap datang ke kampus.

Setelah menyelesaikan apa yang harus kami lakukan di kampus. Beberapa teman saya kemudian ada yang pulang, ada juga yang kembali melanjutkan kegiatan lain, dan ada juga yang seperti saya, hanya menunggu hujan badai sedikit mengurangi keganasannya baru kami beranjak dari kampus menuju rumah kami masing-masing.

Senin, Januari 14, 2013

Spaghetti Prognetti


Jumat minggu lalu adalah hari terakhir saya ujian di semester ini. Dan entah mengapa, mata kuliah terakhir yang diujikan adalah mata kuliah yang tidak saya benci, tetapi saya tidak menyukainya ketika ujian. Kenapa? Karena pada ujian mata kuliah tersebut kita sangat perlu mengandalkan ingatan kita. Ya, dan kadang saya sering memiliki sedikit masalah dengan masalah ingatan.

Baiklah, saya tidak mau membahas itu, yang mau saya bahas di sini adalah mengenai apa yang ada di pikiran saya ketika ujian. Entah mengapa setelah melihat beberapa kata dalam soal ujian tersebut, pikiran saya menjadi memikirkan berbagai macam. Dan salah satunya adalah tentang makanan.

Jumat, Januari 11, 2013

Bantir, Akhir Pekan #3


Minggu, 2 Desember 2012

Hari terakhir kegiatan di Bantir ini diisi dengan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di luar ruangan, setelah hari sebelumnya kegiatan kebanyakan dilakukan di dalam ruangan. Seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan hari itu diawali dengan kegiatan ibadah bersama dan olahraga pagi. Namun, berbeda dengan hari sebelumnya (hari sebelumnya, olahraga dilakukan dengan senam bersama  yang mana tiap kelompok diwakili satu orang anggota kelompok memberikan minimal dua gerakan senam), olahraga hari itu dengan melakukan senam aerobic yang dipandu oleh seorang instruktur senam yang entah didatangkan dari mana. Dilanjutkan dengan makan pagi bersama.

Setelah semua peserta dan panitia siap untuk mengikuti kegiatan selanjutnya, maka kegiatan selanjutnya dilaksanakan. Pertama, para peserta dibagi menjadi empat kelompok besar dalam kegiatan yang disebut discipline session. Tiap kelompok akan dilatih oleh seorang tentara untuk melakukan latihan dasar militer, yaitu dengan materi peraturan baris berbaris. Tetapi, kelompok saya mendapatkan pelatih yang amat sangat baik. Beliau tidak galak, malah banyak memberikan kami istirahat. Tadinya, saya pikir kami akan berlatih baris-berbaris yang melebihi dari apa yang pernah saya dapat ketika saya masih menjadi anggota aktif di PMR. Selain itu, beliau juga lebih banyak bercerita dan berbagi pengalaman selama mejadi tentara ini. Tidak hanya bercerita dan melatih baris-berbaris, beliau juga memberikan wejangan dan pesan yang berharga bagi kami semua.