HUT RI ke-68: Sedikit Ocehan tak Penting

Merdeka, merdeka, merdeka. Sekali merdeka tetap merdeka. 

68 tahun lalu, slogan tersebut jika dituliskan akan menjadi seperti ini:

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA! SEKALI MERDEKA, TETAP MERDEKA!

Yaa, tentunya kita yang hidup di zaman ini tidak merasakan apa yang dialami mereka yang berjuang 68 tahun lalu. Tentunya kita boleh mendaptkan sedikit dispensasi jika kita bermalas-malasan menyanyikan lagu Indonesia Raya, bahkan terkadang lupa liriknya. Tentunya kita boleh dibiarkan jika kita lebih memilih tidur-tiduran di rumah daripada mengikuti upacara bendera di dekat rumah. Benarkah?

Beberapa mungkin setuju, beberapa mungkin tidak. Aku tidak ingin memberitahu posisiku. Tapi satu hal yang dapat kukatakan secara objektif adalah, perayaan kemerdekaan di negara ini menjadi semakin membosankan. Setiap tahun selalu sama. Upacara bendera yang membosankan, diikuti oleh pidato presiden yang membosankan, lomba-lomba 17-an yang sudah semakin jarang diadakan dari tahun ke tahun (entah mengapa, lomba-lomba 17-an yang tidak begitu membosankan malah tidak dipertahankan. Aneh). Ya, perayaan kemerdekaan di negara ini memang begitu plain, sampai-sampai mereka tidak mau berusaha untuk membuat logo yang menarik.

At least mereka berinovasi tahun lalu, well?

Namun kurasa aku mengerti alasannya. Kemarin aku baru saja membaca buku Autobiografi Sukarno yang ditulis dengan bantuan Cindy Adams. Pada bab 26 dari buku tersebut, Sukarno mengekspresikan bagaimana perasaannya terkait proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Beliau menulis demikian:

"After all the years of praying, planning, and hoping, this was not what I imagined the Supreme Occasion would be. This was hardly the moment of glory my mother envisioned when she faced toward the East. It was not what I pictured in my black tomb at Bantjeuj. There were no trumpets blowing. There was no choir of angels. No elaborate ritual. No uniformed equerry. It was not marked by reporters, photographers, speeches. It was not attended by dignitaries in striped trousers or glamorously clad ladies in satins and jewels. Nor was the setting the throne room of Queen Juliana's palace, but a little anteroom off the foyer of a Japanese admiral's house." (Sukarno, 1965: h. 217)
Ya, bahkan Sukarno pun mengaku kecewa dengan bagaimana proklamasi kemerdekaan Indonesia dijalankan. Semuanya terlalu plain. Tidak ada musik, tidak ada apa pun. Yang ada hanyalah pidato pendek dari Bung Karno yang berisi kalimat proklamasi yang berjumlah kurang lebih 24 kata. Setelah itu semuanya bernyanyi lagu Indonesia Raya dan segera kembali ke posnya masing-masing untuk bersiap berperang menghadapi tentara Jepang yang tersisa. And that's it. That's how our independence go. Very much plain.

Jadi jika kita bertanya mengapa perayaan kemerdekaan negara ini begitu membosankan, maka sebenarnya itu memang disengaja, agar kita bisa merasakan juga seperti apa perayaan kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya. Namun tentunya kita harus paham juga bahwa ketika itu negara kita sedang dalam situasi perang. Dalam situasi tersebut, semua waktu dicurahkan untuk menyiapkan persenjataan, memobilisasi massa, menyebarkan berita, kongres, rapat, dsb. Sekedar 1 jam untuk menyiapkan upacara bendera tidak akan terpikirkan oleh mereka, apalagi untuk menyiapkan trompet, musik, dan istana.

Hari ini pun, negara ini masih dalam situasi perang. Ya, perang perebutan kekuasaan. Semua pihak sedang sibuk mencurahkan waktunya untuk urusan yang lebih penting - tampil kece di depan publik. Jika dilihat di TV dan jalanan, kita tentu semakin sering melihat wajah orang-orang yang mengaku pemimpin kita tersenyum begitu manis sambil mengucapkan selamat. Selamat berpuasa, selamat berlebaran, dst, dst. Ooh betapa sibuknya mereka sampai-sampai mereka tidak dapat menyiapkan sebuah acara yang menarik untuk memperingati kemerdekaan negara ini. Tapi semua itu tidak apa, karena dengan demikian kita dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Bung Karno dan para pejuang kemerdekaan kita 68 tahun lalu. Agar kita dapat merasakan betapa membosankannya upacara bendera, betapa pegalnya kaki ini sambil tersiksa mendegarkan pidato tak bermutu dari pembina upacara.

Aku rasa tulisan ini menjadi semakin tidak jelas, aku tahu itu. Tapi apapun yang kukatakan di atas, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat mencintai Indonesia. Aku mencintai orang-orangnya, aku mencintai tanahnya, aku mencintai kebudayaannya, aku mencintai semua yang dimiliki oleh Indonesia. Suatu saat nanti, aku ingin membuat perayaan kemerdekaan yang lebih baik untuk Indonesia dan aku akan memastikan bahwa kata MERDEKA akan tetap ditulis dengan huruf kapital dan Indonesia Raya bukanlah sekedar lagu, melainkan sebuah kenyataan.

Untuk saat ini aku hanya bisa berdoa, sambil mengucap Dirgahayu Republik Indonesia ke-68! Semoga Indonesia tetap jaya selama-lamanya!

Much much better than the official logo

Komentar

Postingan Populer