Sabtu, Januari 18, 2014

Reaksi Menonton 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck'

Damn, damn, damn, soooo damn GOOD!

Begitulah kata-kata itu aku lafalkan dalam hati berulang-ulang selama kurang lebih tiga jam menonton mahakarya terbaru Sunil Soraya yang diambil dari dan berjudul sama dengan novel sastra klasik gubahan Buya Hamka puluhan tahun lalu, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Tidak tahu bagaimana, film ini benar-benar mampu membiusku, mulai dari kualitas sinematografinya yang memukau, akting-akting super dari triplet Herjunot Ali, Reza Rahadian, dan Pevita Pearce, serta Randy Nidji yang secara mengejutkan tampil dengan begitu meyakinkan, meski merupakan kali pertama tampil di layar lebar, kemudian dialog-dialog menggunakan kalimat-kalimat sastra yang membawaku kembali pada masa-masa keemasan kesusasteraan Indonesia yang dianggap sudah mati oleh Soedjatmoko, dan yang paling utama adalah pendalaman dan perkembangan karakternya yang konstan dan selalu menarik untuk diikuti, sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film-film Indonesia.

Triplet Aktor dan Aktris Super (Reza Rahadian, Pevita Pearce, Herjunot Ali)

Karena Buku tentang Swiss



Aku masih sangat ingat ketika itu. Ketika itu, usiaku masih terdiri dari satu digit angka. Mungkin, sekitar 8 atau 9 tahun. Hari itu memang tidak berbeda dari biasanya, semuanya sama. Kelas juga berlangsung seperti biasanya, membahas satu mata pelajaran yang tidak aku sukai, “Ilmu Pengetahuan Sosial” (mungkin ini mengapa aku kuliah di bidang teknik namun pada pada suatu saat nanti, ini juga yang aku pertanyakan, “apakah aku benar-benar membenci IPS?”). Tetapi, bukan berarti aku membenci semua yang dipelajari di mata pelajaran tersebut. Ada beberapa pengecualian, seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak membenci semua hal yang dipelajari dalam mata pelajaran tersebut. Contohnya, aku selalu sangat menyukainya dan sangat tertarik ketika membahas tentang keadaan negeriku saat ini, tentang kekayaan dunia, tentang kondisi fisik yang ada di bumi, tentang cuaca dan iklim, dan tentu saja yang menjadi favoritku adalah ketika membahas tentang negara-negara di dunia dan tentang PBB. Iya, itu adalah dua hal yang paling menjadi favoritku. Bahkan, bukan hanya favoritku di antara hal-hal yang dipelajari pada mata pelajaran IPS, tetapi juga favoritku di antara semua hal yang dibahas di sekolah. 

Hari itu, bahasan di kelas adalah tentang negara-negara di Eropa. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ini adalah salah satu bahasan favoritku. Bahkan, hingga menduduki bangku sekolah menengah pertamapun ini masih menjadi favorit (sepertinya sampai sekarang sih). Mengapa aku menyukai bahasan ini? Entahlah, aku hanya suka saja. Aku suka mempelajari hal yang baru, hal yang belum pernah aku temui sebelumnya. Aku suka mempelajari kebudayaan baru, beberapa hal baru, sistem yang baru, dan segalanya. Rasanya, seperti kamu pergi ke suatu tempat yang baru dan kamu menemui orang yang baru dan akan mendapat pengalaman yang baru. Ya, aku selalu suka bertemu dengan orang yang baru (mungkin ini alasan mengapa aku bercita-cita menjadi duta apapun). Ya, seperti itulah.

Hari itu, seusai pelajaran –kalau aku tidak salah ingat- aku bersama dengan teman-temanku mendiskusikan sesuatu. Dan entah bagaimana dan siapa yang memulai, timbul suatu pertanyaan, “Jika diberi kesempatan, negara mana saja yang paling ingin kau kunjungi di Eropa? Tiga saja, hanya tiga!”. Pertanyaan yang sebenarnya mudah, tapi menjadi sangat sulit ketika itu hanya tiga. Sebenarnya, aku tak bisa menyebutkan hanya tiga negara saja. Aku ingin mengunjungi semuanya. Bahkan, saat membahas negara-negara di Afrika pun aku ingin mengunjungi semuanya. Jangan bertanya mengapa, sebab aku sudah bilang, aku selalu suka mempelajari hal yang baru, apalagi tentang manusia. 

Hanya tiga, tapi akhirnya aku menjawab. Dan inilah jawabanku beserta dengan alasan-alasannya yang mungkin sedikit aneh.

Senin, Januari 06, 2014

Reaksi Menonton Soekarno dan Permasalahan Apresiasi di Indonesia

Selesai menonton film Soekarno beberapa hari yang lalu, tanpa sadar aku bertepuk tangan sangat kencang. Jujur, aku sungguh kagum dengan karya terbaru Hanung Bramantyo tersebut. Film Soekarno dibuat dengan tata produksi yang amat megah, sekelas film Hollywood.Adegan-adegan colossal, seperti adegan dimana Soekarno membuat pidato pertamanya dan ketika membacakan pledoi fenomenal Indonesia Menggugat sungguh luar biasa dan tidak terasa awkward sedikitpun. Kebanyakan adegan yang ditampilkan pun sudah sangat sesuai dengan biografi Soekarno yang ditulis oleh Cindy Adams, dengan sedikit penambahan detail yang mungkin kontroversial, tapi tetap menarik, film-wise.

(Sedikit catatan: jika Rachmawati mengeluhkan bahwa film Soekarno mereduksi history menjadi story dan terdapat adegan-adegan yang merupakan fantasi sutradara, ya memang itulah esensi dari film. Film memang harus mendramatisasi sesuatu yang kaku, seperti sejarah, agar dapat menarik minat penonton. Untuk melakukan itulah, maka fantasi sutradara akan dibutuhkan. Jika sebuah film dipaksakan harus mengikuti fakta sejarah secara akurat, maka film itu tidak akan ada bedanya dengan film dokumenter yang membosankan bagi sebagian orang, tidak termasuk saya haha.)

Ario Bayu, berperan sebagai Soekarno, di area kerja Romusha
Adegan favoritku adalah adegan dimana Bung Karno dipaksa menjadi model dari poster promosi Romusha. Dalam adegan tersebut, Soekarno dipaksa untuk menunjukkan betapa mudah dan enaknya menjadi Romusha dengan cara memacul tanah sambil tersenyum. Padahal di sekitarnya, Bung Karno melihat banyak sekali rakyat-rakyatnya yang mati karena kelelahan bekerja, yang mayatnya kemudian hanya ditaruh di gerobak layaknya rongsokan bekas. Bung Karno tahu betul bahwa dengan menyetujui menjadi model foto Romusha, akan semakin banyak lagi rakyat-rakyatnya yang tertarik bergabung dengan Romusha dan mendapati nasib yang sama. Namun Bung Karno tetap harus melakukannya agar Jepang mau membantu memberikan kemerdekaan Indonesia. Bagi Bung Karno, dia bisa mengorbankan 100 atau 200 orang, asalkan Indonesia bisa merdeka. Itu jauh lebih baik daripada seluruh warga Indonesia dibantai oleh kekejaman tentara Jepang.

Jujur aku tidak menyangka bahwa Hanung Bramantyo akan menampilkan adegan tersebut di film-nya, sebab itu sama saja menunjukkan ke khalayak luas bahwa Bapak Pendiri Negara kita adalah seorang Japanese Collaborator, seseorang yang berpihak pada penjahat perang. Akan tetapi aku juga tidak menyangka kalau Bung Karno sendiri yang akan mengakui perbuatannya itu di biografinya, jadi kurasa Bung Karno sendiri juga merasa tidak masalah jika khalayak luas mengetahui hal ini. Yang jelas, adegan tersebut berhasil tersampaikan dengan baik melalui akting Ario Bayu yang berhasil menunjukkan ekspresi amarah, kesedihan, sekaligus kerelaan yang ditunjukkan Bung Karno ketika dipaksa tersenyum menyaksikan rakyat-rakyatnya diperlakukan layaknya rongsokan bekas. Bagiku, hal ini menunjukkan betapa besarnya jiwa Bung Karno sebagai seorang pemimpin dan Ario Bayu jelas boleh mendapat pujian untuk itu.

Oleh sebab itu, tentu tidak aneh jika seusai menonton Bung Karno aku langsung bertepuk tangan sekencang-kencangnya. Akan tetapi, aku kemudian langsung merasa sedih, karena menyadari bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bertepuk tangan di ruangan teater itu. Aku jadi sedih karena sesudah end credit ditayangkan, orang-orang yang menonton segera berlalu begitu saja, tanpa memberikan apresiasi sedikitpun. Aku jadi tidak mengerti, apa yang salah dengan orang-orang ini?

Setelah beberapa hari, aku jadi mulai berpikir apakah mungkin bangsa Indonesia tidak memiliki budaya untuk mengapresiasi karya seseorang? Semakin dipikir, rasanya semakin masuk akal, sebab kita tentu mengetahui bahwa pemberian gelar pahlawan nasional untuk mengapresiasi mereka yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia adalah sesuatu yang baru dicetuskan pada tahun 1959. Itu berarti bahwa lebih dari 10 tahun negeri ini merdeka, barulah kita terpikirkan untuk mengapresiasi orang-orang yang berjasa bagi kemerdekaan kita. Lebih kacaunya lagi, dua proklamator Indonesia, Bung Karno dan Bung Hatta, tidak mendapatkan gelar pahlawan nasional sampai tahun lalu. Itu juga belum menghitung orang-orang seperti Tan Malaka, yang jasanya selamanya hanya akan diketahui oleh segelintir kutu buku dan aktivis kiri yang suka membeli buku bajakan di daerah Pasar Senen.

Film-film biopik yang dibuat oleh orang-orang seperti Hanung Bramantyo adalah salah satu bentuk apresiasi yang sangat besar kepada orang-orang yang berjasa bagi kemerdekaan Indonesia. Melalui film, orang-orang dapat mengetahui jasa-jasa yang telah diberikan pahlawan-pahlawan kita. Lebih lagi, film telah diketahui mampu menarik massa yang jauh lebih besar dan variatif daripada buku. Anak-anak yang baru lahir di tahun 90-an, orang-orang dewasa yang tidak pernah bersekolah, sampai orang-orang yang buta huruf, semua akan mampu menikmati film ini dan mereka akan mengetahui jasa-jasa atau pemikiran dari pahlawan-pahlawan kita. Itulah sebabnya, film semacam ini perlu mendapatkan apresiasi sebesar-besarnya, agar si pembuat film mau membuat film sejenis lagi, dan mengisi permasalahan kurangnya apresiasi yang diberikan oleh negeri ini pada pahlawan-pahlawannya.

Ke depannya , aku ingin menonton film dengan gaya serupa Soekarno, yang mampu memotret jasa-jasa Bung Hatta, Bung Sjahrir, bahkan Tan Malaka sekalipun, dan seperti apapun hasilnya aku pasti akan menjadi orang yang bertepuk tangan paling kencang di ruang teater.