Sabtu, Januari 18, 2014

Reaksi Menonton 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck'

Damn, damn, damn, soooo damn GOOD!

Begitulah kata-kata itu aku lafalkan dalam hati berulang-ulang selama kurang lebih tiga jam menonton mahakarya terbaru Sunil Soraya yang diambil dari dan berjudul sama dengan novel sastra klasik gubahan Buya Hamka puluhan tahun lalu, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Tidak tahu bagaimana, film ini benar-benar mampu membiusku, mulai dari kualitas sinematografinya yang memukau, akting-akting super dari triplet Herjunot Ali, Reza Rahadian, dan Pevita Pearce, serta Randy Nidji yang secara mengejutkan tampil dengan begitu meyakinkan, meski merupakan kali pertama tampil di layar lebar, kemudian dialog-dialog menggunakan kalimat-kalimat sastra yang membawaku kembali pada masa-masa keemasan kesusasteraan Indonesia yang dianggap sudah mati oleh Soedjatmoko, dan yang paling utama adalah pendalaman dan perkembangan karakternya yang konstan dan selalu menarik untuk diikuti, sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film-film Indonesia.

Triplet Aktor dan Aktris Super (Reza Rahadian, Pevita Pearce, Herjunot Ali)

Almarhum Roger Ebert pernah mengatakan bahwa tidak ada film bagus yang terasa lama dan tidak ada film jelek yang terasa sebentar. Maksudnya, film yang bagus mau durasinya 3 jam atau bahkan 7 jam sekalipun, tidak akan pernah terasa membosankan untuk ditonton. Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck jelas masuk dalam kategori pertama, sehingga ketika selesai menonton aku benar-benar tidak sadar bahwa 3 jam sudah berlalu di ruang teater tersebut. Superb!

Adegan favoritku di film ini ada banyak, tapi yang ingin kubagi hanya empat:

Yang pertama adalah adegan pembukaan. Film ini benar-benar tidak main-main, memulai dengan cara langsung menonjok penonton melalui musik suspense, pemandangan matahari terbenam di Makassar yang indah, dan dialog Zainuddin (Herjunot Ali) dengan ibunya. Tanpa perlu narasi, tanpa berbasa-basi, penonton langsung diperkenalkan pada sosok Zainuddin, seorang pemuda Makassar yang ayahnya berasal dari Batipuh, Padang, bermaksud mengunjungi tanah kelahiran ayahnya untuk menimba ilmu.

Yang membuatku terkesan dengan adegan ini adalah betapa singkat dan efektifnya durasi yang digunakan oleh film ini untuk membangun background-nya, sehingga durasi tiga jam dari film ini sebagian besar benar-benar digunakan untuk mengisahkan konflik utama, bukan membangun background.

Adegan kedua adalah adegan kemunculan pertama dari Aziz (Reza Rahadian) yang merupakan peran antagonis di film ini. Di Adegan tersebut, digambarkan Aziz sedang bermain kebut-kebutan dengan temannya yang orang Belanda menggunakan mobil oto yang mentereng, sambil mengenakan jas mengkilap dan kacamata hitam yang luar biasa keren kalau dipakai Reza.

Hanya dengan sekali melihat saja, penonton bisa langsung tahu orang seperti apa Aziz ini. Anak orang kaya, bandel, dan tentunya brengsek, dan Reza Rahadian berhasil menunjukkan itu semua hanya dengan sekali menunjukkan ekspresi tersenyumnya ketika diteriaki oleh temannya bahwa dia terlalu ngebut. Ekspresi pertama Aziz itu benar-benar menggambarkan semuanya, sungguh luar biasa.

Adegan ketiga adalah adegan dimana Aziz  meminta maaf kepada Hayati (Pevita Pearce) di kamarnya, seusai pertengkaran kecil di meja makan. Ekspresi diam Reza Rahadian dan ekspresinya ketika meminta maaf itu benar-benar terasa natural dan penonton dapat melihat betapa menyesalnya dia setelah membentak Hayati di depan ibunya.

Yang paling membuatku terkesan adalah betapa Aziz yang selama paruh awal film digambarkan sebagai anak orang kaya brengsek yang suka berjudi dan tidak menghargai istrinya, ternyata memiliki sisi lain yang dapat membuat penonton dapat bersimpati kepadanya. Terbukti setelah adegan tersebut, sikap Aziz pada Hayati digambarkan semakin melunak dan semakin berkembang setelah bertemu dengan Zainuddin lagi di Surabaya nantinya. Inilah yang kumaksud dengan pendalaman dan pengembangan karakter yang berhasil dilakukan dengan sangat baik di film ini.

Adegan keempat dan menurutku merupakan adegan terbaik di film ini adalah adegan dialog terakhir antara Zainuddin dan Hayati sebelum keberangkatan Hayati ke Padang menggunakan kapal Van Der Wijck. Dibuka dengan kalimat, "Demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain, padahal begitu besarnya," Herjunot Ali seperti mencurahkan seluruh kemampuan akting terbaiknya untuk menyampaikan dialog panjang yang isinya adalah curahan hatinya yang dipenuhi dendam pada Hayati, karena telah mengkhianatinya.

Dialog tersebut begitu intens, first class, dan dilakukan dengan ekspresi wajah yang amat meyakinkan. Ekspresi Herjunot ketika itu bagaikan seseorang yang sedang mencabut duri-duri yang sudah tertanam begitu lama di dasar kerongkongannya. Begitu menyakitkan baginya, tapi juga begitu melegakan, seperti itulah ekspresi yang ditunjukkan Herjunot. Luar biasanya lagi, seusai menyampaikan seluruh curahan hatinya yang dipenuhi dendam, ia membalikkan badannya, dan mengatakan bahwa Hayati harus pulang ke Padang menggunakan kapal Van Der Wijck. Di saat mengucapkan itu, ekspresinya benar-benar berlawanan dengan kata-katanya, seolah ia tidak tega menjatuhkan hukuman seberat itu. Di saat itulah, mataku berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi karena terpukau, dengan betapa hebatnya adegan tersebut. Hail Junot!

Satu catatan kecil, aku merasa paling tidak dapat bersimpati kepada tokoh Hayati, dan mungkin malah jadi membencinya karena semua konflik dalam film ini sebetulnya berakar dari sikapnya yang tidak mampu membuat keputusan sendiri, dan lebih memilih sesuatu yang dianggapnya nyaman. Tidak seperti Juliet yang berani menenggak racun ketika akan dinikahkan dengan laki-laki selain Romeo, Hayati benar-benar sangat pasif dan membuatku jengkel sepanjang film berlangsung.

Tapi setelah kupikir lagi, kurasa memang itulah potret dari perempuan tradisional Indonesia yang selalu terikat oleh adat, terbelenggu oleh keputusan laki-laki, dan tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan keinginannya sendiri. Setelah terpikirkan hal tersebut, aku jadi merasa bahwa well, ini memang sebuah kritik sosial yang sangat tepat pada sistem patriarkal yang masih mengakar kuat di Indonesia dan bahwa Pevita Pearce telah mampu memerankan dengan baik sosok perempuan yang terikat oleh sistem patriarkal tersebut. Jempol untuk Pev.

Overall, aku ingin mengatakan bahwa film ini jelas masuk dalam kategori wajib tonton. Film ini mungkin tidak mampu membuatmu terharu biru, layaknya Habibie Ainun, namun film ini jelas akan lebih dari mampu untuk membuatmu terpukau dan tidak sanggup bernafas selama menontonnya. Segeralah pergi ke bioskop jika belum menonton, atau jika film ini sudah tidak ada lagi, tunggulah dengan sabar VCD originalnya, dan belilah. Percayalah, kamu tidak akan mau melewatkan salah satu film terbaik yang pernah dibuat oleh bangsa ini.

_____________________________________________
NB: Aku tidak sabar menanti film Supernova yang akan diproduksi oleh tim produksi yang sama dan aku juga semakin berharap agar sutradara Indonesia segera membuat film Bumi Manusia setelah melihat kesuksesan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.


5 komentar,kritik, dan saran:

Anonim mengatakan...

"Demikianlah perempuan, dia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan dia lupa kekejamannya sendiri pada orang lain, padahal begitu besarnya,"

kutipan pernyataan ini SANGAT dalam artinya..
Dan saya rasa kutipan ini adalah intisari dari seluruh cerita yang disimpulkan oleh karakter Zainuddin

sabandi bandi mengatakan...

Kapan waktunya air mataku hampir jatuh.ketika hayati di ajak randy nidji masuk ke ruangan kerja zainuddin dan randy membuka foto di dinding kamar zainuddin

Nendy Alfian mengatakan...

adegan yg membuat air mata saya netes adalah saat ketika hayati ngirim surat terakhir nya dan mengatan bahwa hayati masih suci jiwanya, masih suci jiwanya, sesuai dgn janjinya pd saat dia berpisah di tepi danau yg mengataan hayati akn tetap suci utk zainudin .

intan septi wulandari mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
intan septi wulandari mengatakan...

Emang keren tapi berasa ini film gak hampir sama dengan novelnya banyak yang di percepat , harusnya dimulai dari ketika ayah zainudin di usir dan zainudin kecil karena bagian itu yang menurut ku menyentuh dari novelnya ,
ah, tulisan ini bagus
mampir juga yuk di blog ku

Posting Komentar

jangan lupa kasih komentar ya?
makasih atas komentarnya,, pasti akan sangat bermanfaat :)