Kamis, Februari 13, 2014

Book Review: The First Phone Call from Heaven

Besar di sebuah keluarga yang cukup ketat dalam pengajaran agama dan sempat bersekolah di sekolah Islam membuatku tidak pernah meragukan sedikit pun tentang kehidupan sesudah mati. Namun bagi beberapa orang lain, kehidupan sesudah mati adalah sesuatu yang sulit dipercaya. Mereka begitu yakin bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, sehingga mereka akan menggunakan waktu dalam hidupnya sebaik-baik mungkin untuk menyenangkan dirinya dan meninggalkan beberapa warisan, jika mungkin, sebelum mereka mati. 

Kepada orang-orang yang meragu itulah agama bekerja, untuk 'menyadarkan' mereka, bahwa kehidupan sekarang bukanlah segala-galanya. Namun beratus-ratus tahun agama bekerja, mereka malah semakin terasing, menjadi sebuah lembaga yang hanya digunakan oleh sebagian kecil orang yang percaya. Agama bahkan tereduksi, menjadi sekedar tempat pelarian bagi mereka yang sudah putus asa, sementara mereka yang masih memiliki kemegahan terus menerus melupakan ajaran agama dan melupakan Tuhan. 

Lalu bagaimana, jika dalam keadaan seperti itu, Tuhan tiba-tiba muncul dan menunjukkan bukti bahwa kehidupan sesudah mati itu benar-benar ada? Itulah premis utama dalam buku terbaru Mitch Albom yang berjudul The First Phone Call from Heaven.

                             
   
Novel ini berkisah tentang sebuah kota fiksi, Coldwater, yang mana beberapa penduduknya, secara misterius, mendapatkan panggilan telepon dari mereka yang telah mati dan mengaku menelepon dari surga. Kehebohan pun bermulai, ketika Catherine, salah seorang yang mendapat telepon dari surga, mengumumkan pada jemaat di gerejanya bahwa ia telah mendapat mukjizat. Orang-orang segera meragukan pengakuan tersebut, namun mulai percaya, ketika salah seorang jemaat, Elias Rowe, mengkonfirmasinya dengan mengakui bahwa ia juga telah mendapat telepon dari surga.

Kehebohan di Coldwater ini kemudian memicu ketertarikan dari stasiun berita asal Alpena, sehingga mereka mengirimkan reporternya untuk memberitakan kejadian ini. Hanya dalam waktu beberapa hari, telepon dari surga telah menjadi topik utama seluruh media di dunia. Dalam waktu beberapa minggu, Coldwater, yang merupakan kota kecil berpenduduk tidak lebih dari 400 orang, berubah menjadi semacam Makkah, dimana ribuan orang berbondong-bondong datang dari seluruh dunia untuk sekedar mencaritahu kebenaran dari kejadian ini atau untuk berdoa agar mereka juga mendapat mukjizat yang sama.

Namun dalam setiap mukjizat, akan selalu ada peragu, dan dalam kisah ini, peran tersebut dimainkan oleh Sully Harding, seorang mantan narapidana, yang setelah kehilangan isteri dan pekerjaannya dalam sebuah kecelakaan pesawat, dimana ia dituduh sebagai penyebabnya, menjadi seorang ateis yang tidak mempercayai Tuhan. Ia begitu yakin bahwa telepon dari surga ini adalah sebuah kebohongan yang dibuat oleh orang tak bertanggung jawab. Demi meyakinkan anaknya bahwa surga itu tidak ada dan bahwa ibunya tidak akan pernah meneleponnya lagi, Sully berusaha membongkar kebohongan dari peristiwa telepon dari surga ini. 

Dengan adanya banyak karakter, novel ini seperti menghadirkan berbagai perspektif agama bersama-sama dalam balutan kisah yang hangat dan menyentuh, as expected from the author of Tuesdays with Morrie and The Five People You Meet in Heaven. Di sini kita akan mendapatkan perspektif orang yang percaya buta bahwa mukjizat ini adalah kebenaran, ada perspektif yang meragukan, ada yang tidak peduli dengan benar atau salahnya, namun berusaha mencari keuntungan dari peristiwa ini. 

Semua perspektif itu dihadirkan untuk membuat kita berpikir, "Dapatkah kita mempercayai adanya kehidupan sesudah mati?" Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak dihadirkan Albom dalam buku ini, namun ia menyampaikan, secara tidak langsung, bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut akan bergantung pada "Seberapa jauh kamu mau percaya." 

Ada sebuah dialog yang sangat kusukai dalam buku ini:

Elias Rowe: Does this (phone call) proves what we believe (the heaven)?
Pastor Warren: If you believe it, you don't need proof

Kalau kamu percaya, maka kamu tidak perlu bukti, itulah hal utama yang ingin disampaikan oleh Mitch Albom. Bahwa sebagai manusia, kalau kamu memang percaya pada Tuhan, maka tidak peduli apakah sebuah mukjizat benar-benar datang dari Tuhan atau hanya kebohongan yang dibuat manusia, kamu tidak perlu mencaritahu kebenaran dari mukjizat itu hanya untuk dapat percaya pada-Nya. 

Namun sebagai pembaca novel yang ingin membaca sampai selesai, kita tentu akan tetap penasaran apakah telepon-telepon dari surga ini benar asli atau hanya kebohongan. Di sinilah Mitch Albom mencoba memasukkan elemen misteri dalam novelnya, sesuatu yang belum pernah dilakukan di novel-novel sebelumnya. Elemen ini masuk dalam usaha Sully untuk menginvestigasi peristiwa ini secara mendalam dan menemukan petunjuk-petunjuk yang akan membuktikan bahwa peristiwa ini adalah kebohongan. Formula misteri yang digunakan oleh Albom sangat sederhana dan penggemar kisah misteri tentu tidak akan kesulitan untuk menebak jawaban dari misterinya. 

Tapi pada akhirnya, hal paling berharga dari novel ini bukanlah plot ceritanya, yang berputar-putar akibat banyaknya karakter yang tidak semuanya saling berkaitan. Bukan pula elemen misterinya, yang sangat sederhana dan mudah untuk ditebak. Namun hal yang paling berharga adalah kehangatan dan pesan-pesan indah yang disampaikan oleh Albom dengan bahasa khas-nya. The First Phone Call from Heaven mungkin bukan sebuah novel masterpiece yang sempurna, tapi membacanya akan membawamu dalam sebuah perjalanan menyenangkan yang akan membuatmu berpikir "Seberapa jauh kamu percaya pada-Nya?"

Novel ini sangat mudah dibaca dan aku yakin semua orang akan menikmati membacanya. Perlu dicatat walaupun pesan-pesan yang disampaikan dalam novel ini sangat religius, tapi tidak berarti bahwa novel ini berusaha untuk menceramahi dan mempengaruhi pikiran pembaca. Novel ini hanya berusaha untuk membuat pembaca berpikir dan memutuskan sendiri apa yang akan ia percayai. Dan itu, menurutku, adalah hal yang membuat Mitch Albom tetap menjadi penulis favoritku :)

Kamis, Februari 06, 2014

Racauan Manusia tentang Manusia



Entahlah apa yang mendasari perilaku tiba-tiba saya saat ini. Sebenarnya bukan hanya ketiba-tibaan semata. Mungkin, jauh-jauh hari sebelumnya, saya memang sempat memikirkan hal ini. Dan kebetulan, akhir-akhir ini saya sedang melahap beberapa tulisan dan sebuah buku yang ditulis oleh seorang psikiater. Jadilah saya menuliskan pertanyaan saya saat ini.
Manusia, yang konon katanya sudah diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna. Yang diberi fisik yang sempurna serta dianugerahi kemampuan untuk berpikir dan merasakan. Lalu, sudah seharusnya manusia menggunakan semua itu dengan sebaik-baiknya untuk memberikan manfaat bagi hidupnya.

Kesempurnaan itu sudah seharusnya juga menjadi alasan untuk bersyukur. Dan menurut sebuah pemikiran saya yang belum tentu benar ini, bersyukur itu salah satu cara paling efektif untuk bisa merasakan sebuah kebahagiaan, sekecil apapun itu. Dan bukankah sebenarnya manusia-manusia ini mengharapkan kehidupan dan perasaan yang bahagia? Bukankah manusia selalu mengharapkan dan melakukan sesuatu juga untuk memenuhi kebutuhannya untuk merasa bahagia?

Tetapi, sebuah pertanyaan besar selalu muncul di benak saya yang hingga saat inipun saya tak pernah mendapatkan jawaban yang bisa saya terima. Mengapakah manusia-manusia ini selalu saja menganggap dirinya menderita?