Senin, April 07, 2014

Oke, Semangat



Hai, sepertinya sudah sangat lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Sudah lama sekali saya tidak membagi cerita melalui blog ini. Mungkin, karena hal itu pula saya tulisannya menjadi semakin jelek saja haha.

Saat ini, ketika saya sedang mengerjakan salah satu tugas kuliah yang entah mengapa saya kehabisan daya terhadap tugas ini. Bayangkan saja, ini semacam tugas yang sangat mirip sekali dengan skripsi yang harus saya kerjakan tahun depan. Bedanya, kali ini tugas ini dikerjakan bertujuh. Tapi, saya lupa siapa satu lagi anggota kelompok saya, padahal saat pembagian kelompok, saya accidentally became a secretary in that class. Tapi, namanya juga kecelakaan, jadi data-data kelompok pada akhirnya bukan saya yang memegang haha. Dan karena saya jadi sekretaris kelas, saya bisa menghindar menjadi ketua kelompok lagi haha. Baiklah itu tidak penting.

Jadi, saat ini ketika sedang mengerjakan tugas ini. Tiba-tiba saya merasa lelah, ya mungkin efek dari praktikum seharian tadi sih ahaha. Kemudian saya ingat, saya ingin berbagi cerita di blog ini haha. Sepertinya, basa-basinya sudah kepanjangan ya.

Well, ini berkisah tentang semangat. (Saya jadi ingat tulisan saya tentang semangat yang saya buat beberapa waktu yang lalu, jika ingin tahu, ada di sini).

Tempo hari, ketika saya sedang mengerjakan tugas yang sama. Namun, tidak kunjung mendapatkan referensi yang sesuai juga. Dan juga masih menyisakan banyak pekerjaan yang belum dikerjakan. Akhirnya, hal-hal tersebut sempat menggerogoti semangat saya haha. Terdengar aneh sih memang,

Tetapi, entah mengapa Tuhan itu selalu baik. Pada waktu saya benar-benar sudah menyerah pada semangat yang sudah habis tergerogoti, datanglah pesan dari sepupu saya yang masih SD. Jadi, dia itu akhir-akhir ini memang sedang hobi banget sms. Tidak lupa juga malam itu. Sepupu saya yang masih SD (kita sebut saja si kecil) mengirimi saya sebuah sms biasa. Dia hanya menanyakan kegiatan saya saat itu. Sayapun menjawab kalau saya sedang belajar, lalu saya balik bertanya kepada si kecil, “kamu ngga belajar”. Entah karena si kecil memang sedang belajar atau karena tersindir, diapun menjawab bahwa dia baru saja akan ambil buku untuk belajar haha. Karena saya ingin mencontohkan hal yang baik, maka saya menyarankan dirinya untuk belajar dulu, baru deh kalau mau sms nanti lagi setelah si kecil dan saya selesai belajar. Naaah, setelah saya mengatakannya, saya pikir si kecil akan langsung belajar tanpa membalas sms saya lagi. Namun, ternyata dugaan saya salah. Si kecil masih membalas sms saya, seperti ini :
“oke, semangat semangat..”
Dan setelah membaca pesan tersebut, saya langsung bisa mengerjakan pekerjaan lain yang belum saya kerjakan. Normalnya, ketika semangat saya sudah habis, saya tidak akan bisa mengerjakan apapun. Namun, hanya karena satu pesan yang datang pada saat yang tepat tersebut, bisa mengubah segalanya. Haha, agak berlebihan sih.

Mungkin terdengar aneh memang, jika hanya kata-kata tersebut bisa membuat saya mendapatkan kembali semangat saya. Saat itu juga ada yang menanyakan kepada saya, “emang ngaruh ya?”. Iya, mungkin untuk sebagian orang bisa menjadi tidak akan memberikan pengaruh apapun. Tapi, pada kenyataannya, hal itu tidak berlaku bagi saya. Sebab pada kenyataannya saya mendapatkan kembali semangat saya saat itu.
Mengapa bisa begitu?

Sebenarnya saya tidak bisa benar-benar menjelaskan hingga penjelasan saya bisa diterima oleh yang membaca. Namun, ketika semangat rasanya terlalu langka. Dan ketika rasanya amat sangat susah untuk mendapatkannya kembali. Mendapatkan ucapan semangat dari orang lain bisa menjadi sangat membantu. Entahlah, hanya saja ketika mendapatkan ucapan tersebut, rasanya seperti ada yang masih memperhatikan kita (entah hanya perasaan saja atau tidak). Dengan merasa masih ada yang memperhatikan kita, maka otomatis akan merasa masih ada yang peduli. Oleh sebab itu, rasanya sia-sia jika kita malah menjalani hidup ini tanpa semangat sama sekali. Jadi, secara otomatis ada suatu dorongan yang membuat kita menjadi merasa bersemangat untuk menghadapi apa saja yang ada di depan kita. Ya, setidaknya kita tak boleh membuat kecewa orang-orang yang mau membuang waktunya hanya untuk mengucakan “Semangat!” kepada kita.

Ya, kurang lebih seperti itu sih. Tapi, ini hanya berlaku untuk diri saya sendiri. Entah apakah bisa berlaku juga untuk orang lain atau tidak. 

-rida-

Kamis, April 03, 2014

Naik Kelas



Tempo hari, mendengar suatu kisah yang diceritakan seorang sahabat. Seingat saya, ini kisah kedua yang secara langsung saya saksikan dalam kehidupan ini, kisah yang sangat mirip dengan sinetron.
Tentu saja saya tak ingin menceritakan kisah tersebut. Hanya saja, dari kisah tersebut entah bagaimana saya bisa mencetuskan beberapa kalmiat. Kalimat-kalimat tersebut menurut saya dan sahabat saya, tidak mungkin bisa keluar dari mulut saya yang seperti ini haha.
Beginilah kurang lebih kalimat-kalimat tersebut:

“Setiap cinta memiliki ujiannya sendiri. Pertanyaannya adalah, “Mampukah kita melewati ujian tersebut dengan nilai yang bagus?"

Iya, setiap kisah itu pasti ada ujiannya. Seperti ketika masih sekolah, ada ujian yang menandakan bahwa sudah saatnya kita untuk naik kelas. Dan pertanyaannya adalah apakah kita bisa lulus dalam ujian tersebut atau tidak? Jika bisa, berarti sudah waktunya kita untuk naik kelas. Dan itu berarti bahwa ketika kita mulai diuji, ketika itulah Tuhan berpikir bahwa sudah saatnya kita untuk naik kelas.
Dan bukan hanya kisah cinta saja yang ada ujiannya. Setiap kisah dalam kehidupan kita pasti ada ujiannya. Entah itu kehidupan di lingkungan sosial, kehidupan akademis, karir, keluarga, dan semua kisah lainnya dalam kehidupan. Sudah sepantasnya juga kita mulai berpikiran positif terhadap masalah-masalah yang menjadi ujian tersebut. Misalnya, dengan berpikir seperti itu tadi, yaitu Tuhan sudah percaya bahwa kita sudah layak untuk bisa naik kelas.
Haha. Saya cuma mau bercerita seperti itu hehe
Sekian