Senin, November 28, 2011

Kisah Seorang Ayah, Seorang Anak, dan Seekor Keledai


Bagi orang-orang yang selalu merasa bingung dengan pendapat orang lain tentang diri sendiri dan tidak tahu harus berbuat apa, aku punya satu kisah menarik yang dapat dijadikan bahan renungan dan pembelajaran.

Alkisah di suatu masa hiduplah seorang ayah dan anak yang bepergian dari kampungnya ke sebuah kota dengan menunggangi keledai. Keledai tersebut dinaiki berdua. Melihat hal tersebut orang-orang menjadi geram dan berkata, "sungguh manusia tak tahu diri! Binatang lemah dinaikki berdua." Mendengar hal tersebut sang ayah menjadi malu dan memutuskan untuk turun dari keledai itu bersama anaknya. Perjalanan pun dilanjutkan dengan menuntun keledai itu.

Di tengah jalan, orang-orang yang melihatnya menjadi tertawa terbahak-bahak seraya berkata, "dasar orang bodoh, punya kendaraan kok malah tidak dinaiki." Mendengar hal tersebut, sang ayah kembali malu. Ia memutuskan untuk menaiki keledai itu sementara sang anak dibiarkan berjalan. Sayangnya, orang-orang justru berkata, "Ayah tak tahu diri, dia naik keledai smeentara anaknya dibiarkan berjalan." Kesal, sang ayah turun dan menyuruh sang anak menaikinya sementara ia berjalan. Tentu saja orang-orang kembali mencela dengan berkata, "Anak tak tahu diri, ayahnya yang renta ia biarkan berjalan kaki." Karena tak tahu apa lagi yang harus dilakukan, mereka memutuskan untuk berjalan sambil menggotong keledai itu.

Orang-orang pun semakin terbahak-bahak. Malu dan bingung, sang ayah memutuskan untuk membuang keledai tersebut ke sungai, tapi orang-orang malah berkata, "dasar pembunuh!" Putus asalah sang ayah dan karena stress berlebihan, ia memutuskan untuk bunuh diri dengan menceburkan dirinya ke sungai.

Kisah tersebut adalah sebuah pelajaran mengenai apa yang akan terjadi bila kita terlalu banyak mendengarkan kata orang. Pada akhirnya, kita harus memilih mana yang kita anggap benar dan mana yang salah. hal ini didasarkan pada falsafah arab yang menyatakan, "Persetujuan dari seluruh orang, sebaik apapun hal tersebut, adalah sesuatu yang mustahil. Jadi karena tidak dapat semuanya, maka yang ada saja yang dimanfaatkan." Intinya, kita harus menyadari bahwa sebuah pemikiran yang kita ciptakan, sebaik apapun, tidak mungkin dapat diterima oleh semua orang. Oleh sebab itu, kita harus lebih lapang dalam menerima kritik namun itu tidak boleh menggoyahkan keyakinan kita akan apa yang benar. Semoga ini dapat bermanfaat :)

sumber:
Munawar-Rachman, Budhy. 2006. Nurcholish Madjid dan Perdebatan Islam di Indonesia. Jurnal Universitas Paramadina vol. 4, No. 3 Agustus 2006: 244.
http://peperonity.com/go/sites/mview/kisah.renungan.dan.motivasi/33977912

Selasa, November 15, 2011

Lakukan dengan Hati

Manusia adalah makhluk yang sangat dicintai oleh Allah. Cinta itu terwujud dalam dua anugerah terbesar yang diberikan Allah pada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk-Nya yang lain dan membuatnya menjadi makhluk-Nya yang paling sempurna. Dua anugerah itu adalah akal dan nafsu.

Akal dan nafsu adalah sesuatu yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Akal akan memberikan manusia kemampuan untuk menilai sesuatu berdasarkan rasionalitas sementara nafsu akan memberikan manusia kemampuan untuk memiliki keinginan dan selalu berusaha. Keberadaan akal dan nafsu dalam diri manusialah yang membuat mereka dapat bertahan hidup melalui survival the fittest dan menjadi spesies paling unggul di muka bumi. Namun, seiring mereka tumbuh dan berkembang, manusia cenderung untuk memilih salah satu dari kedua anugerah itu dan mengabaikan lainnya. Jadi pertanyaannya, haruskah kita memilih salah satu dari kedua anugerah itu dan manakah yang harus dipilih?

Senin, November 07, 2011

Public Talk with Peter Young: The Self Knowledge

Ini adalah laporan dari acara bertajuk Public Talk with Peter Young yang diselenggarakan 27 Oktober lalu di Universitas paramadina



Bagi yang belum tahu, Peter Young adalah kepala sekolah dari Beshara School, sebuah sekolah yang mengajarkan pentingnya pengetahuan mengenai diri sendiri. Diri sendiri atau ‘aku’ yang diajarkan oleh Beshara School sangatlah berbeda dengan ‘aku’ yang diajarkan oleh masyarakat pada umumnya. Dijelaskan olehnya bahwa ’aku’ yang dimaksud adalah sebuah cermin dari seluruh semesta dan apa yang kita lakukan terhadap ’aku’ akan mempengaruhi semesta kita secara keseluruhannya. Sederhananya, di dalam diri setiap manusia terdapat sebuah semesta kecil yang dapat mempengaruhi semesta raksasa ini dan disebut ’aku.’ Inilah pengetahuan yang berusaha diajarkan oleh Peter Young dan Beshara School, sebuah pengetahuan yang sebenarnya sangat dekat dengan manusia namun jarang sekali disadari, yaitu Self Knowledge.

Rabu, November 02, 2011

Sekilas tentang Jakarta (3)

Selamat memasuki Bulan November!
Kata orangtua di zaman bahula, kalau nama bulan belakangnya udah pakai 'ber ber' seperti September, Oktober, November, dan Desember, maka itu berarti kita akan mendengar suara 'BEEER' tiap hari yang artinya kurang lebih hujan deras. Yak di bulan ini Indonesia telah memasuki pertengahan musim hujannya dan itu berarti inilah puncak dari musim hujan dimana setiap hari kita akan menemui hujan yang sangat deras. Hujan di Bulan November dapat dikatakan sebagai hujan yang paling terkenal karena Guns N Roses pernah membuatnya menjadi judul lagu mereka yang pernah menaiki puncak tangga lagu dunia, judul lagu itu adalah November Rain (bagi yang belum tahu). Terlepas dari semua itu, bulan November adalah bulan yang sangat tidak bersahabat dengan warga Jakarta.

Ada beberapa masalah yang selalu dihadapi warga Jakarta ketika musim hujan di bulan November, antara lain: