Selasa, September 09, 2014

Balongan Punya Cerita : Bag. 1



Selama satu bulan yang lalu, saya mencoba untuk hidup sendiri di luar kota kelahiran saya. Sebenarnya, ini adalah pengalaman pertama saya keluar dari kota kelahiran saya selama lebih dari satu minggu dan benar-benar hidup sendiri. Keadaan ini pun karena memang tuntutan kuliah. Awalnya, saya memang merasa sangat excited sekali. Hello, ini pengalaman pertama saya.

Jadi ceritanya, di kampus saya ada mata kuliah kerja praktek. Mata kuliah ini wajib diambil oleh setiap mahasiswa. Kerja praktek ini dilaksanakan bukan dalam kelas, sesuai namanya, ya seperti magang. Namun, mahasiswa harus berusaha sendiri untuk mendapatkan kesempatan magang di salah satu perusahaan yang kerjaannya ada hubungannya dengan teknik kimia. Biasanya, industri yang ada pengolahannya.

Jumat, Agustus 22, 2014

awkward



Masih ingat kan, Tuhan selalu membuat rencana yang tidak sia-sia. Selalu ada maksud dibalik semua kejadian yang direncanakan oleh Tuhan. Salah satunya adalah tentang pertemuan. Jika pertemuan itu adalah campur tangan Tuhan, maka jangan diragukan pasti ada maksud yang besar dibalik pertemuan itu. Entah pertemuan macam apapun itu. Begitu jugalah yang selalu saya yakini. Dan dengan keyakinan itulah saya tak pernah menyesali segala macam pertemuan dalam hidup saya. Salah satunnya adalah pertemuan yang cukup aneh yang saya alami tempo hari.

Tak perlulah sepertinya saya menceritakan dengan lengkap tentang pertemuan saya dengan mereka. Yang jelas, pertemuan kami menjadi hal yang sungguh menyenangkan dan menjadi begitu menyakitkan ketika hari perpisahan itu datang.

Bayangkan saja, kau sedang dalam keadaan sangat kesepian. Kau hanya berdua, dengan seorang temanmu yang juga merasa kesepian. Kalian menikmati kesepian kalian berdua saja. Kalian merindukan rumah, kalian merindukan para sahabat nan jauh di sana. Kalian merindukan saat-saat ketika bisa berbagi dan saling memperhatikan. Namun, saat itu kalian hanya berdua. Mencoba melawan kesepian yang tak bisa dielakkan.

Kalian hanya berdua bersama menikmati kerinduan dan kesepian dan berjuang hanya berdua.
Tiba-tiba saja kalian bertemu dengan orang-orang baru. Tanpa pernah kalian duga, tanpa pernah kalian pikir, dan tentu saja kalian tak pernah membayangkannya sebelumnya. Sebab, sebelum mereka datang, kalian juga bersama manusia-manusia yang lain. Manusia-manusia yang sudah mengenal kalian lebih dahulu dari mereka. Manusia-manusia yang datang dan berjuang bersama kalian namun tak pernah bisa memberi perhatian dan mengusik rasa sepi kalian. Sementara, orang-orang baru yang datang kepada kalian melakukan hal yang berbeda. Tentu saja kalian tak pernah menyangkanya. Orang-orang itu memberi apa yang kalian butuhkan. Orang-orang itu menganggap keberadaan kalian. Orang-orang itu bisa mengusik kesepian senyap yang kalian rasakan. Orang-orang itu mengingatkan kalian pada sahabat-sahabat kalian yang kalian rindukan. Orang-orang itu mampu menjaga kalian. Orang-orang itu memperlakukan kalian dengan layak. Orang-orang itu membuat kalian tertawa. Dan buruknya, orang-orang itu bisa membuat kalian menangis ketika harus berpisah.

Kalian berbagi bersama. Dalam waktu yang sangat singkat kalian saling berbagi. Dalam waktu yang sangat singkat kalian tak ingin berpisah. Dan dalam waktu yang sangat singkat kalian mengikat persahabatan kalian. Bukankah itu sangat mengharukan dan menyenangkan?

Kalian tahu bagaimana rasanya ketika hari perpisahan datang? Ketika kalian harus menelusuri jalanan bersama untuk terakhir kalinya. Dan bagaimana rasanya ketika kalian harus benar-benar berpisah pada suatu persimpangan jalan?

Bayangkan saja, mereka hadir pada saat yang tepat dan membawa hal yang tepat.
Intinya, kau kesepian, dan mereka datang, membawa tawa. Kau sedang lelah, mereka hadir membawa semangat. Kau sedang merasa sendiri, mereka datang menjagamu.

Hanya berharap saja, semuanya akan baik-baik saja untuk selamanya. Sebab, kita sepertinya benar-benar bersaudara.

indramayu, 21 Agustus 2014 11.58 p.m.
_princess_

“we are here really miss you badly :’)

Minggu, Agustus 10, 2014

Coba Ingat Sejenak



Merasa hidupnya selalu menderita? Merasa selalu tidak beruntung? Merasa sering mengalami hal yang buruk?

Jika merasa begitu, coba duduk sebentar dan mencoba untuk mengingat apa saja yang telah kita katakan dan kerjakan. Ingat juga apa yang kita lakukan dan apa yang kita ucapkan saat mengalami hal-hal itu.
Sesungguhnya, tak perlulah sering merasa “merana” seperti itu. Jika memang sering merasa seperti itu, coba ingat mungkin kita sudah terlalu banyak mengeluh hingga kurang untuk bersyukur. Yah mungkin sih memang merasanya tak pernah lupa untuk bersyukur, tapi ingat juga, rasa syukur kita diikuti oleh ucapan dan perilaku atau tidak? Jika rasa syukurnya juga sama dengan keluhannya ya sama aja. Mungkin sesungguhnya kita hanya terlalu banyak mengeluh, mungkin Tuhan sudah lelah memberikan hal yang sangat baik kepada kita. Sebab, dari semua ujian dan hadiah yang diberikan Tuhan, (terutama ujian) mungkin saja keluhan yang lebih sering keluar dari mulut kita. 

Coba untuk merenung sejenak saja. 

Ingat dengan semua kebaikan Tuhan.

Minggu, Mei 04, 2014

Singing #whatever

'cause all of me loves all of you
love your curves and all your edges
all your perfect imperfection

give your all to me, give my all to you
you're my end and my beginning
even when i lose i'm winning

'cause i give you all of me
and i give you all of you

'cause i don't know what else to do
other than giving my all
for you

dududu~

Senin, April 07, 2014

Oke, Semangat



Hai, sepertinya sudah sangat lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Sudah lama sekali saya tidak membagi cerita melalui blog ini. Mungkin, karena hal itu pula saya tulisannya menjadi semakin jelek saja haha.

Saat ini, ketika saya sedang mengerjakan salah satu tugas kuliah yang entah mengapa saya kehabisan daya terhadap tugas ini. Bayangkan saja, ini semacam tugas yang sangat mirip sekali dengan skripsi yang harus saya kerjakan tahun depan. Bedanya, kali ini tugas ini dikerjakan bertujuh. Tapi, saya lupa siapa satu lagi anggota kelompok saya, padahal saat pembagian kelompok, saya accidentally became a secretary in that class. Tapi, namanya juga kecelakaan, jadi data-data kelompok pada akhirnya bukan saya yang memegang haha. Dan karena saya jadi sekretaris kelas, saya bisa menghindar menjadi ketua kelompok lagi haha. Baiklah itu tidak penting.

Jadi, saat ini ketika sedang mengerjakan tugas ini. Tiba-tiba saya merasa lelah, ya mungkin efek dari praktikum seharian tadi sih ahaha. Kemudian saya ingat, saya ingin berbagi cerita di blog ini haha. Sepertinya, basa-basinya sudah kepanjangan ya.

Well, ini berkisah tentang semangat. (Saya jadi ingat tulisan saya tentang semangat yang saya buat beberapa waktu yang lalu, jika ingin tahu, ada di sini).

Tempo hari, ketika saya sedang mengerjakan tugas yang sama. Namun, tidak kunjung mendapatkan referensi yang sesuai juga. Dan juga masih menyisakan banyak pekerjaan yang belum dikerjakan. Akhirnya, hal-hal tersebut sempat menggerogoti semangat saya haha. Terdengar aneh sih memang,

Tetapi, entah mengapa Tuhan itu selalu baik. Pada waktu saya benar-benar sudah menyerah pada semangat yang sudah habis tergerogoti, datanglah pesan dari sepupu saya yang masih SD. Jadi, dia itu akhir-akhir ini memang sedang hobi banget sms. Tidak lupa juga malam itu. Sepupu saya yang masih SD (kita sebut saja si kecil) mengirimi saya sebuah sms biasa. Dia hanya menanyakan kegiatan saya saat itu. Sayapun menjawab kalau saya sedang belajar, lalu saya balik bertanya kepada si kecil, “kamu ngga belajar”. Entah karena si kecil memang sedang belajar atau karena tersindir, diapun menjawab bahwa dia baru saja akan ambil buku untuk belajar haha. Karena saya ingin mencontohkan hal yang baik, maka saya menyarankan dirinya untuk belajar dulu, baru deh kalau mau sms nanti lagi setelah si kecil dan saya selesai belajar. Naaah, setelah saya mengatakannya, saya pikir si kecil akan langsung belajar tanpa membalas sms saya lagi. Namun, ternyata dugaan saya salah. Si kecil masih membalas sms saya, seperti ini :
“oke, semangat semangat..”
Dan setelah membaca pesan tersebut, saya langsung bisa mengerjakan pekerjaan lain yang belum saya kerjakan. Normalnya, ketika semangat saya sudah habis, saya tidak akan bisa mengerjakan apapun. Namun, hanya karena satu pesan yang datang pada saat yang tepat tersebut, bisa mengubah segalanya. Haha, agak berlebihan sih.

Mungkin terdengar aneh memang, jika hanya kata-kata tersebut bisa membuat saya mendapatkan kembali semangat saya. Saat itu juga ada yang menanyakan kepada saya, “emang ngaruh ya?”. Iya, mungkin untuk sebagian orang bisa menjadi tidak akan memberikan pengaruh apapun. Tapi, pada kenyataannya, hal itu tidak berlaku bagi saya. Sebab pada kenyataannya saya mendapatkan kembali semangat saya saat itu.
Mengapa bisa begitu?

Sebenarnya saya tidak bisa benar-benar menjelaskan hingga penjelasan saya bisa diterima oleh yang membaca. Namun, ketika semangat rasanya terlalu langka. Dan ketika rasanya amat sangat susah untuk mendapatkannya kembali. Mendapatkan ucapan semangat dari orang lain bisa menjadi sangat membantu. Entahlah, hanya saja ketika mendapatkan ucapan tersebut, rasanya seperti ada yang masih memperhatikan kita (entah hanya perasaan saja atau tidak). Dengan merasa masih ada yang memperhatikan kita, maka otomatis akan merasa masih ada yang peduli. Oleh sebab itu, rasanya sia-sia jika kita malah menjalani hidup ini tanpa semangat sama sekali. Jadi, secara otomatis ada suatu dorongan yang membuat kita menjadi merasa bersemangat untuk menghadapi apa saja yang ada di depan kita. Ya, setidaknya kita tak boleh membuat kecewa orang-orang yang mau membuang waktunya hanya untuk mengucakan “Semangat!” kepada kita.

Ya, kurang lebih seperti itu sih. Tapi, ini hanya berlaku untuk diri saya sendiri. Entah apakah bisa berlaku juga untuk orang lain atau tidak. 

-rida-

Kamis, April 03, 2014

Naik Kelas



Tempo hari, mendengar suatu kisah yang diceritakan seorang sahabat. Seingat saya, ini kisah kedua yang secara langsung saya saksikan dalam kehidupan ini, kisah yang sangat mirip dengan sinetron.
Tentu saja saya tak ingin menceritakan kisah tersebut. Hanya saja, dari kisah tersebut entah bagaimana saya bisa mencetuskan beberapa kalmiat. Kalimat-kalimat tersebut menurut saya dan sahabat saya, tidak mungkin bisa keluar dari mulut saya yang seperti ini haha.
Beginilah kurang lebih kalimat-kalimat tersebut:

“Setiap cinta memiliki ujiannya sendiri. Pertanyaannya adalah, “Mampukah kita melewati ujian tersebut dengan nilai yang bagus?"

Iya, setiap kisah itu pasti ada ujiannya. Seperti ketika masih sekolah, ada ujian yang menandakan bahwa sudah saatnya kita untuk naik kelas. Dan pertanyaannya adalah apakah kita bisa lulus dalam ujian tersebut atau tidak? Jika bisa, berarti sudah waktunya kita untuk naik kelas. Dan itu berarti bahwa ketika kita mulai diuji, ketika itulah Tuhan berpikir bahwa sudah saatnya kita untuk naik kelas.
Dan bukan hanya kisah cinta saja yang ada ujiannya. Setiap kisah dalam kehidupan kita pasti ada ujiannya. Entah itu kehidupan di lingkungan sosial, kehidupan akademis, karir, keluarga, dan semua kisah lainnya dalam kehidupan. Sudah sepantasnya juga kita mulai berpikiran positif terhadap masalah-masalah yang menjadi ujian tersebut. Misalnya, dengan berpikir seperti itu tadi, yaitu Tuhan sudah percaya bahwa kita sudah layak untuk bisa naik kelas.
Haha. Saya cuma mau bercerita seperti itu hehe
Sekian

Kamis, Februari 13, 2014

Book Review: The First Phone Call from Heaven

Besar di sebuah keluarga yang cukup ketat dalam pengajaran agama dan sempat bersekolah di sekolah Islam membuatku tidak pernah meragukan sedikit pun tentang kehidupan sesudah mati. Namun bagi beberapa orang lain, kehidupan sesudah mati adalah sesuatu yang sulit dipercaya. Mereka begitu yakin bahwa kematian adalah akhir dari segalanya, sehingga mereka akan menggunakan waktu dalam hidupnya sebaik-baik mungkin untuk menyenangkan dirinya dan meninggalkan beberapa warisan, jika mungkin, sebelum mereka mati. 

Kepada orang-orang yang meragu itulah agama bekerja, untuk 'menyadarkan' mereka, bahwa kehidupan sekarang bukanlah segala-galanya. Namun beratus-ratus tahun agama bekerja, mereka malah semakin terasing, menjadi sebuah lembaga yang hanya digunakan oleh sebagian kecil orang yang percaya. Agama bahkan tereduksi, menjadi sekedar tempat pelarian bagi mereka yang sudah putus asa, sementara mereka yang masih memiliki kemegahan terus menerus melupakan ajaran agama dan melupakan Tuhan. 

Lalu bagaimana, jika dalam keadaan seperti itu, Tuhan tiba-tiba muncul dan menunjukkan bukti bahwa kehidupan sesudah mati itu benar-benar ada? Itulah premis utama dalam buku terbaru Mitch Albom yang berjudul The First Phone Call from Heaven.

                             
   
Novel ini berkisah tentang sebuah kota fiksi, Coldwater, yang mana beberapa penduduknya, secara misterius, mendapatkan panggilan telepon dari mereka yang telah mati dan mengaku menelepon dari surga. Kehebohan pun bermulai, ketika Catherine, salah seorang yang mendapat telepon dari surga, mengumumkan pada jemaat di gerejanya bahwa ia telah mendapat mukjizat. Orang-orang segera meragukan pengakuan tersebut, namun mulai percaya, ketika salah seorang jemaat, Elias Rowe, mengkonfirmasinya dengan mengakui bahwa ia juga telah mendapat telepon dari surga.

Kehebohan di Coldwater ini kemudian memicu ketertarikan dari stasiun berita asal Alpena, sehingga mereka mengirimkan reporternya untuk memberitakan kejadian ini. Hanya dalam waktu beberapa hari, telepon dari surga telah menjadi topik utama seluruh media di dunia. Dalam waktu beberapa minggu, Coldwater, yang merupakan kota kecil berpenduduk tidak lebih dari 400 orang, berubah menjadi semacam Makkah, dimana ribuan orang berbondong-bondong datang dari seluruh dunia untuk sekedar mencaritahu kebenaran dari kejadian ini atau untuk berdoa agar mereka juga mendapat mukjizat yang sama.

Namun dalam setiap mukjizat, akan selalu ada peragu, dan dalam kisah ini, peran tersebut dimainkan oleh Sully Harding, seorang mantan narapidana, yang setelah kehilangan isteri dan pekerjaannya dalam sebuah kecelakaan pesawat, dimana ia dituduh sebagai penyebabnya, menjadi seorang ateis yang tidak mempercayai Tuhan. Ia begitu yakin bahwa telepon dari surga ini adalah sebuah kebohongan yang dibuat oleh orang tak bertanggung jawab. Demi meyakinkan anaknya bahwa surga itu tidak ada dan bahwa ibunya tidak akan pernah meneleponnya lagi, Sully berusaha membongkar kebohongan dari peristiwa telepon dari surga ini. 

Dengan adanya banyak karakter, novel ini seperti menghadirkan berbagai perspektif agama bersama-sama dalam balutan kisah yang hangat dan menyentuh, as expected from the author of Tuesdays with Morrie and The Five People You Meet in Heaven. Di sini kita akan mendapatkan perspektif orang yang percaya buta bahwa mukjizat ini adalah kebenaran, ada perspektif yang meragukan, ada yang tidak peduli dengan benar atau salahnya, namun berusaha mencari keuntungan dari peristiwa ini. 

Semua perspektif itu dihadirkan untuk membuat kita berpikir, "Dapatkah kita mempercayai adanya kehidupan sesudah mati?" Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak dihadirkan Albom dalam buku ini, namun ia menyampaikan, secara tidak langsung, bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut akan bergantung pada "Seberapa jauh kamu mau percaya." 

Ada sebuah dialog yang sangat kusukai dalam buku ini:

Elias Rowe: Does this (phone call) proves what we believe (the heaven)?
Pastor Warren: If you believe it, you don't need proof

Kalau kamu percaya, maka kamu tidak perlu bukti, itulah hal utama yang ingin disampaikan oleh Mitch Albom. Bahwa sebagai manusia, kalau kamu memang percaya pada Tuhan, maka tidak peduli apakah sebuah mukjizat benar-benar datang dari Tuhan atau hanya kebohongan yang dibuat manusia, kamu tidak perlu mencaritahu kebenaran dari mukjizat itu hanya untuk dapat percaya pada-Nya. 

Namun sebagai pembaca novel yang ingin membaca sampai selesai, kita tentu akan tetap penasaran apakah telepon-telepon dari surga ini benar asli atau hanya kebohongan. Di sinilah Mitch Albom mencoba memasukkan elemen misteri dalam novelnya, sesuatu yang belum pernah dilakukan di novel-novel sebelumnya. Elemen ini masuk dalam usaha Sully untuk menginvestigasi peristiwa ini secara mendalam dan menemukan petunjuk-petunjuk yang akan membuktikan bahwa peristiwa ini adalah kebohongan. Formula misteri yang digunakan oleh Albom sangat sederhana dan penggemar kisah misteri tentu tidak akan kesulitan untuk menebak jawaban dari misterinya. 

Tapi pada akhirnya, hal paling berharga dari novel ini bukanlah plot ceritanya, yang berputar-putar akibat banyaknya karakter yang tidak semuanya saling berkaitan. Bukan pula elemen misterinya, yang sangat sederhana dan mudah untuk ditebak. Namun hal yang paling berharga adalah kehangatan dan pesan-pesan indah yang disampaikan oleh Albom dengan bahasa khas-nya. The First Phone Call from Heaven mungkin bukan sebuah novel masterpiece yang sempurna, tapi membacanya akan membawamu dalam sebuah perjalanan menyenangkan yang akan membuatmu berpikir "Seberapa jauh kamu percaya pada-Nya?"

Novel ini sangat mudah dibaca dan aku yakin semua orang akan menikmati membacanya. Perlu dicatat walaupun pesan-pesan yang disampaikan dalam novel ini sangat religius, tapi tidak berarti bahwa novel ini berusaha untuk menceramahi dan mempengaruhi pikiran pembaca. Novel ini hanya berusaha untuk membuat pembaca berpikir dan memutuskan sendiri apa yang akan ia percayai. Dan itu, menurutku, adalah hal yang membuat Mitch Albom tetap menjadi penulis favoritku :)

Kamis, Februari 06, 2014

Racauan Manusia tentang Manusia



Entahlah apa yang mendasari perilaku tiba-tiba saya saat ini. Sebenarnya bukan hanya ketiba-tibaan semata. Mungkin, jauh-jauh hari sebelumnya, saya memang sempat memikirkan hal ini. Dan kebetulan, akhir-akhir ini saya sedang melahap beberapa tulisan dan sebuah buku yang ditulis oleh seorang psikiater. Jadilah saya menuliskan pertanyaan saya saat ini.
Manusia, yang konon katanya sudah diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna. Yang diberi fisik yang sempurna serta dianugerahi kemampuan untuk berpikir dan merasakan. Lalu, sudah seharusnya manusia menggunakan semua itu dengan sebaik-baiknya untuk memberikan manfaat bagi hidupnya.

Kesempurnaan itu sudah seharusnya juga menjadi alasan untuk bersyukur. Dan menurut sebuah pemikiran saya yang belum tentu benar ini, bersyukur itu salah satu cara paling efektif untuk bisa merasakan sebuah kebahagiaan, sekecil apapun itu. Dan bukankah sebenarnya manusia-manusia ini mengharapkan kehidupan dan perasaan yang bahagia? Bukankah manusia selalu mengharapkan dan melakukan sesuatu juga untuk memenuhi kebutuhannya untuk merasa bahagia?

Tetapi, sebuah pertanyaan besar selalu muncul di benak saya yang hingga saat inipun saya tak pernah mendapatkan jawaban yang bisa saya terima. Mengapakah manusia-manusia ini selalu saja menganggap dirinya menderita?

Sabtu, Januari 18, 2014

Reaksi Menonton 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck'

Damn, damn, damn, soooo damn GOOD!

Begitulah kata-kata itu aku lafalkan dalam hati berulang-ulang selama kurang lebih tiga jam menonton mahakarya terbaru Sunil Soraya yang diambil dari dan berjudul sama dengan novel sastra klasik gubahan Buya Hamka puluhan tahun lalu, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

Tidak tahu bagaimana, film ini benar-benar mampu membiusku, mulai dari kualitas sinematografinya yang memukau, akting-akting super dari triplet Herjunot Ali, Reza Rahadian, dan Pevita Pearce, serta Randy Nidji yang secara mengejutkan tampil dengan begitu meyakinkan, meski merupakan kali pertama tampil di layar lebar, kemudian dialog-dialog menggunakan kalimat-kalimat sastra yang membawaku kembali pada masa-masa keemasan kesusasteraan Indonesia yang dianggap sudah mati oleh Soedjatmoko, dan yang paling utama adalah pendalaman dan perkembangan karakternya yang konstan dan selalu menarik untuk diikuti, sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh film-film Indonesia.

Triplet Aktor dan Aktris Super (Reza Rahadian, Pevita Pearce, Herjunot Ali)